TVRINews, Jakarta
Perekonomian Indonesia diperkirakan tetap menunjukkan ketahanan pada Triwulan III-2026 dengan proyeksi pertumbuhan sebesar 5,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Penguatan investasi, aktivitas manufaktur, serta transaksi ekonomi digital menjadi sejumlah faktor yang menopang prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Prof. Dr. Rudi Purwono, menyampaikan proyeksi tersebut berdasarkan perkembangan sejumlah indikator ekonomi selama Juli hingga September 2026.

(Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Prof. Dr. Rudi Purwono. [Foto: pasca.unair])
"Dan pada triwulan ketiga ini, saya memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,3% year-on-year," ujar Rudi dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com, Selasa, 3 November 2026.
Menurut Rudi, salah satu indikator yang menunjukkan penguatan ekonomi nasional adalah pertumbuhan kredit investasi. Mengacu pada data Bank Indonesia, kredit investasi pada Agustus 2026 tumbuh 23,4 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan kredit modal kerja yang tumbuh 12,3 persen dan kredit konsumsi sebesar 5 persen.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan investasi mulai mengambil peran lebih besar sebagai penggerak ekonomi nasional yang selama ini didominasi aktivitas konsumsi.
"Ini memberikan informasi kepada kita, bahwa investasi sudah mulai menjadi bagian dari mesin pertumbuhan yang memang selama ini lebih banyak didorong oleh aktivitas dari konsumsi," jelasnya.
Rudi menambahkan, peningkatan kredit investasi juga mencerminkan penguatan pembiayaan dunia usaha dan meningkatnya kebutuhan pendanaan sektor riil.
"Dan informasi kedua memberikan hal yang paling penting kepada kita bahwa ini adalah menunjukkan penguatan aktivitas pembiayaan dunia usaha dan meningkatkan kebutuhan pendanaan sektor riil, sesuatu yang sangat positif untuk ke depannya," ucapnya.
Dari sisi konsumsi, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) selama Juli hingga September 2026 tercatat rata-rata sebesar 127,3. Indikator tersebut menggambarkan optimisme konsumen terhadap prospek penghasilan, kondisi ekonomi, dan ketersediaan lapangan kerja dalam enam bulan mendatang.
"Dan ini sangat penting bagi kita semuanya, bahwa terkait dengan adanya indeks ekspektasi konsumen ini, bahwa untuk kinerja ke depan ekonomi Indonesia itu akan lebih baik," katanya.
Sementara itu, sektor manufaktur juga menunjukkan kinerja ekspansif. PMI S&P Global pada September 2026 tercatat sebesar 52,4, sedangkan Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia pada Triwulan III-2026 mencapai 52,28.
Kedua indikator tersebut menunjukkan aktivitas industri masih berada dalam fase ekspansi, yang ditandai dengan peningkatan pesanan baru, produksi, dan aktivitas pembelian.
"Ini menunjukkan perbaikan dibanding bulan sebelumnya, yang artinya bahwa sektor manufaktur mengalami ekspansi, dengan peningkatan tentunya pesanan baru, produksi, dan aktivitas pembelian," ungkapnya.
Penguatan aktivitas ekonomi juga terlihat dari perkembangan transaksi digital. Volume transaksi pembayaran digital pada Agustus 2026 mencapai 6,11 miliar transaksi atau tumbuh 40,36 persen yoy. Adapun transaksi QRIS tumbuh 67,22 persen yoy.
Kemudian, Rudi menilai pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin luasnya akses digital masyarakat serta penguatan ekosistem pembayaran digital yang mendukung aktivitas ekonomi nasional.
Di sektor perdagangan, ekspor Indonesia selama Januari hingga Agustus 2026 tumbuh 4,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ekspor dinilai dapat mendorong produksi dalam negeri sekaligus memperbesar peluang penyerapan tenaga kerja.
"Ini menunjukkan bahwa produk-produk kita dikaitkan dengan permintaan global ini semakin meningkat, ini kita harapkan dengan peningkatan ekspor tentunya kegiatan produksi dalam negeri semakin meningkat dan akan meningkatkan permintaan terkait dengan penyerapan tenaga kerja," paparnya.
Selain ekspor, sektor pariwisata turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Kunjungan wisatawan mancanegara pada Agustus 2026 meningkat 6,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan kunjungan wisatawan tersebut berpotensi mendorong aktivitas berbagai sektor, mulai dari akomodasi, transportasi, perdagangan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Ini menjadi sinyal positif untuk penguatan pariwisata Indonesia ke depan untuk meningkatkan devisa tentunya dan juga untuk berkontribusi dalam mendorong aktivitas ekonomi terutama yang berkaitan dengan penyediaan akomodasi, transportasi, perdagangan, dan UMKM," tuturnya.









