TVRINews – Jakarta
Lonjakan signifikan harga cabai dan bawang merah menekan daya beli masyarakat, sementara harga beras bertahan di level tinggi.
Indeks harga sejumlah komoditas pangan pokok di pasar tradisional Indonesia mencatatkan Fluktuasi Harga yang signifikan pada perdagangan hingga jumat 15 Mei 2026.
Berdasarkan data terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), lonjakan harga didominasi oleh kelompok hortikultura dan protein hewani.
Kenaikan paling tajam terjadi pada sektor bumbu dapur. Harga bawang merah kini menyentuh angka Rp57.250 per kilogram, atau meningkat sebesar 22,85 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Tren serupa juga terlihat pada cabai rawit merah yang melonjak melampaui Rp78.500 per kilogram, mencatatkan kenaikan harian sebesar 21,14 persen.
Sektor pangan pokok lainnya, yakni beras, masih tertahan pada tren harga tinggi di seluruh kategori kualitas.
Beras kualitas super I kini dibanderol Rp19.400 per kilogram, sementara kategori medium I stabil di angka Rp17.600 per kilogram. Kondisi ini mencerminkan ketatnya pasokan di tingkat distributor yang berdampak langsung pada harga eceran di pasar-pasar provinsi.
Tidak hanya kebutuhan nabati, harga protein hewani juga terpantau merangkak naik. Daging sapi kualitas utama saat ini diperdagangkan pada level Rp151.900 per kilogram.
Sementara itu, daging ayam ras segar mengalami penyesuaian harga menjadi Rp44.150 per kilogram. Di tengah kenaikan tersebut, harga telur ayam ras segar tercatat relatif lebih stabil di angka Rp33.950 per kilogram, meski tetap menunjukkan kecenderungan menguat.
Di sektor komoditas olahan, gula pasir premium mencatat kenaikan substansial sebesar 17,57 persen menjadi Rp23.750 per kilogram. Begitu pula dengan minyak goreng kemasan bermerek yang kini rata-rata dijual seharga Rp25.950 per kilogram.
Menurut laporan resmi PIHPS, pergerakan harga yang fluktuatif ini merupakan akumulasi dari berbagai faktor teknis di lapangan.
"Perubahan harga dipengaruhi secara simultan oleh kendala distribusi, dinamika pasokan di tingkat hulu, kondisi cuaca, hingga fluktuasi permintaan pasar di sejumlah wilayah strategis," tulis laporan tersebut sebagai rujukan utama pemerintah dalam memantau stabilitas pangan nasional.










