TVRINews, Jakarta
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya mengajak para wisudawan Institut STIAMI ke-49 menjadi motor penggerak ekonomi kreatif melalui inovasi dan kewirausahaan.
Menurutnya, generasi muda harus berani menciptakan lapangan kerja agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menyongsong Indonesia Emas 2045. Hal itu disampaikan Riefky dalam orasi ilmiah pada Wisuda Institut STIAMI ke-49 di Jakarta, Kamis, 2 Juli 2026.
Riefky menegaskan ekonomi kreatif merupakan sektor yang bertumpu pada kekuatan ide, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi. Karena itu, generasi Z dan Milenial dinilai memiliki modal besar untuk menjadi pelaku utama ekonomi kreatif.
"Sebagai digital native yang kreatif, visioner, dan adaptif, generasi Z dan Milenial memiliki kemampuan besar menghasilkan gagasan inovatif. Di era disrupsi digital ini, para wisudawan ditantang tidak sekadar menjadi pencari kerja, tetapi mampu menciptakan lapangan kerja baru," ujar Riefky dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Jumat, 3 Juli 2026.
Kemudian ia mengatakan, bonus demografi yang diproyeksikan mencapai puncaknya pada 2045 harus dimanfaatkan dengan memperkuat sektor ekonomi kreatif sebagai mesin penciptaan lapangan kerja. Apalagi, lebih dari 53 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif sehingga memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Riefky, karakter generasi muda yang kreatif, adaptif, dan dekat dengan teknologi sangat sesuai dengan kebutuhan industri ekonomi kreatif. Bahkan, pada 2025 sebanyak 63 persen tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif didominasi oleh generasi Milenial dan Gen Z.
Untuk itu, Riefky menitipkan tiga pesan kepada para wisudawan, yakni terus belajar menghadapi perubahan yang cepat, berani menciptakan peluang usaha sekaligus lapangan kerja, serta menjaga integritas dan karakter yang kuat.
"Pendidikan tinggi harus menjadi jembatan lahirnya agen perubahan yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat, industri, hingga pasar global," ucapnya.
Sebagai bentuk dukungan, pemerintah terus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif melalui delapan kebijakan strategis Asta Ekraf yang mencakup penguatan data, regulasi, talenta, infrastruktur, kekayaan intelektual, akses pembiayaan, perluasan pasar, dan kolaborasi hexahelix.
Selain itu, Kementerian Ekonomi Kreatif juga menyiapkan Program Flagship Ekraf 2027 yang meliputi aktivasi desa kreatif, pengembangan creative hub, program Creative by Indonesia, bantuan sarana produksi kreatif, serta penguatan kelembagaan dan diplomasi ekonomi kreatif.
Rektor Institut STIAMI, Sylvia Murni, menyatakan dukungan terhadap langkah Kementerian Ekonomi Kreatif. Ia berharap para wisudawan mampu memanfaatkan peluang di sektor ekonomi kreatif untuk menjadi sumber daya manusia yang unggul, inovatif, dan berintegritas.










