TVRINews, Jakarta
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menegaskan dukungan penuh pemerintah terhadap penyelenggaraan Jakarta Fair yang dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperluas pasar bagi pelaku UMKM.
Menurut Maman, Jakarta Fair menjadi salah satu ajang strategis bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk meningkatkan penjualan dan memperluas jaringan usaha. Ia menyebut lebih dari 40 persen peserta pameran berasal dari sektor UMKM.
“Acara ini menjadi acara yang kita support penuh. Tahun lalu transaksinya hampir sekitar Rp7 triliun dan sekarang target dari penyelenggara didorong sampai kurang lebih Rp8 triliun,” kata Maman dalam keterangan yang diterima tvrinews, Kamis, 11 Juni 2026.
Selain nilai transaksi yang meningkat, jumlah pengunjung juga diproyeksikan mencapai sekitar 6 juta orang. Menurutnya, tingginya jumlah pengunjung dan transaksi menjadi angin segar bagi para pelaku UMKM, baik yang berasal dari Jakarta maupun daerah lain yang turut berpartisipasi dalam pameran tersebut.
Maman menegaskan Kementerian UMKM akan terus mendukung keberlangsungan Jakarta Fair yang telah berlangsung hampir 50 tahun dan berkontribusi terhadap pergerakan ekonomi di Ibu Kota.
“Saya khususnya harus mengucapkan terima kasih banyak. Sukses selalu buat Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Mas Pram dan juga kepada semua pihak yang menyelenggarakan acara ini,”jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Maman juga menanggapi isu perpajakan bagi UMKM. Ia memastikan tidak ada perubahan kebijakan yang memberatkan pelaku usaha kecil. Bahkan, pemerintah telah menetapkan secara permanen insentif Pajak Penghasilan (PPh) final sebesar 0,5 persen bagi UMKM dengan omzet hingga Rp4,8 miliar per tahun.
Sementara itu, pelaku UMKM dengan omzet hingga Rp500 juta per tahun tetap tidak dikenakan pajak.
“Pajak untuk usaha mikro, kecil dan menengah sama sekali tidak ada perubahan. Yang omzetnya di bawah Rp4,8 miliar per tahun itu 0,5 persen dan diberlakukan permanen. Bagi yang omzet pendapatannya Rp500 juta per tahun, itu 0 persen,”ucapnya.
Terkait dampak penguatan dolar AS terhadap UMKM, Maman mengakui sektor yang paling terdampak adalah usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor, seperti pengusaha tahu dan tempe yang menggunakan kedelai impor.
Meski demikian, ia memastikan pemerintah terus melakukan langkah mitigasi melalui koordinasi lintas kementerian agar dampak fluktuasi nilai tukar tidak terlalu membebani pelaku usaha.
“Sampai hari ini terus melakukan respons yang cepat agar implikasi terhadap menaiknya harga dolar tidak terlalu berpengaruh kepada usaha mikro, kecil, dan menengah kita,”tambahnya.
Maman juga menegaskan bahwa aspirasi masyarakat, termasuk dari kalangan mahasiswa, merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang harus dihormati. Namun ia mengingatkan agar penyampaian aspirasi dilakukan secara damai dan sesuai dengan aturan yang berlaku.
“Saya menghargai dan menghormati aspirasi-aspirasi yang muncul di negara kita. Yang terpenting, sampaikan aspirasi itu dengan cara damai dan sesuai mekanisme aturan yang ada,”pungkasnya.










