TVRINews – Jakarta
Fenomena El Nino memicu lonjakan harga pangan dunia di tengah menguatnya ketahanan dan pasokan beras nasional.
Di tengah lonjakan harga dan penurunan produksi beras di pasar internasional akibat cuaca ekstrem, Indonesia mencatatkan posisi strategis dengan mengamankan swasembada beras nasional. Antisipatif yang di lakukan pemerintah terbukti memperkuat ketersediaan pasokan dalam negeri saat fenomena El Niño mengancam ketahanan pangan global.
Data Asosiasi Eksportir Beras Thailand mengidentifikasi bahwa beras putih Thailand pecahan 5 persen menyentuh US$499 per ton (sekitar Rp7,98 juta per ton) pertengahan pekan ini.
Capaian tersebut mencatatkan level harga tertinggi dalam dua tahun terakhir. Pada saat yang sama, pasar berjangka Chicago memproyeksikan kenaikan harga beras kasar melebihi 80 persen sejak awal 2026, berlawanan dengan tren komoditas biji-bijian lain seperti jagung dan gandum yang cenderung menurun.
Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) serta Departemen Pertanian Serikat (USDA) memperkirakan penurunan output beras dunia pada siklus 2026–2027. Perubahan iklim yang dipicu El Niño berdampak langsung pada penurunan curah hujan di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara yang memegang porsi lebih dari setengah total produksi global. Dampak inflasi ini mulai menyasar tingkat ritel, di mana Filipina mencatat lonjakan harga beras hingga 21 persen secara tahunan.
Berbeda dengan kondisi internasional, Indonesia mencatatkan penguatan produksi secara domestik. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan realisasi produksi beras nasional sepanjang 2025 mencapai 34,69 juta ton, bertumbuh 13,29 persen dibandingkan periode 2024 yang tercatat sebesar 30,62 juta ton.
(Foto Ilsutrasi Grafis: TVRINews.com)
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengonfirmasi bahwa total akumulasi ketersediaan beras nasional saat ini mencapai kisaran 25 juta ton. Jumlah tersebut terbagi atas 4,5 juta ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Bulog, potensi panen berjalan (standing crop) sebesar 10 juta ton, serta 10 juta ton stok yang tersebar di sektor komersial seperti perhotelan, restoran, dan katering.
Dengan konsumsi domestik sebesar 2,5 juta ton per bulan, volume ketersediaan tersebut diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga pertengahan 2027.
"Stok di Bulog sebesar 4,5 juta ton, standing crop 10 juta ton, dan stok sektor komersial 10 juta ton membentuk total 25 juta ton. Dengan konsumsi bulanan 2,5 juta ton, ketersediaan nasional sangat solid untuk meredam gejolak global," ujar Amran pada laman resmi Badan Komuniaksi Pemerintahan RI, Sabtu, 7 November 2026.
Ia menambahkan bahwa kemandirian pasokan menjadi prasyarat utama perlindungan kedaulatan negara saat terjadi gangguan pada rantai pasok global atau konstelasi geopolitik luar negeri.
"Ketergantungan pangan pada pihak luar memiliki risiko yang sangat tinggi, terutama ketika jalur perdagangan terganggu. Karena itu, pencapaian swasembada ini berfungsi sebagai fondasi ketahanan nasional," tegasnya.
Sebagai bentuk mitigasi terhadap dampak El Niño, langkah intervensi teknis terus ditingkatkan melalui modernisasi perairan, perbaikan saluran irigasi, serta penyediaan varietas benih tahan kekeringan.
Dukungan terhadap produsen skala kecil diwujudkan lewat alokasi pupuk bersubsidi sebesar 9,55 juta ton dengan penyesuaian harga turun 20 persen, serta penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram.
Pemerintah menegaskan konsistensi peningkatan produksi dan perlindungan terhadap petani akan terus dilanjutkan untuk menjaga kestabilan harga serta ketersediaan pangan di dalam negeri.










