TVRINews, Jakarta
Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Kamis, 18 Juni 2026 di zona negatif seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) setelah bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), menyampaikan sinyal kebijakan moneter yang cenderung ketat (hawkish).
Pada pembukaan perdagangan, rupiah melemah 0,6 persen ke level Rp17.845 per dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi bersamaan dengan menguatnya indeks dolar AS yang naik ke posisi 100,23.
Tekanan terhadap mata uang Garuda muncul setelah pasar merespons hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang menunjukkan kecenderungan The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Sikap hawkish tersebut mendorong permintaan terhadap dolar AS dan menekan sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk di kawasan Asia.
Pelemahan tidak hanya dialami rupiah. Sejumlah mata uang Asia lainnya juga bergerak turun terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, antara lain won Korea Selatan, ringgit Malaysia, peso Filipina, baht Thailand, serta dolar Taiwan dan dolar Hong Kong.
Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar terhadap prospek kebijakan moneter AS ke depan. Ketika ekspektasi suku bunga AS tetap tinggi, aset berbasis dolar cenderung lebih menarik bagi investor sehingga mendorong penguatan mata uang Negeri Paman Sam dan menekan mata uang negara lain.
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi dan perkembangan kebijakan moneter global yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan nilai tukar dalam jangka pendek.










