TVRINews – Jakarta
Kendati dibayangi ketidakpastian geopolitik global, pemerintah optimistis akselerasi fiskal dan enam pilar mesin baru mampu mendongkrak pencapaian nasional hingga ambang batas optimal pada akhir tahun.
Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk mempertahankan momentum pemulihan fiskal yang solid melalui strategi ekspansi terarah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa arahan strategis kepemimpinan nasional menuntut akselerasi kinerja fiskal agar mampu mendekati ambang batas enam persen menjelang penghujung tahun mendatang.
Langkah optimis tersebut berpijak pada pencapaian semester pertama yang mencatatkan angka ekspansi sebesar 5,45 persen. Capaian ini diklaim sebagai rekam jejak tertinggi dalam kurun waktu lebih dari satu dekade terakhir sekaligus menempatkan posisi makroekonomi domestik di jajaran terdepan di antara negara-negara anggota G20.
Kendati demikian, otoritas tetap mewaspadai dinamika eksternal, termasuk eskalasi geopolitik regional di kawasan Selat Hormuz serta disrupsi rantai pasok akibat proteksionisme perdagangan global.
Dalam pemaparannya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan stabilitas anggaran dinilai berada pada trayektori yang tangguh. Sektor pendapatan negara tercatat mengalami lonjakan positif sebesar 21,3 persen secara tahunan, diiringi peningkatan belanja produktif sebesar 18,2 persen. Fleksibilitas fiskal tersebut berhasil menjaga rasio defisit anggaran tetap terkendali pada kisaran 0,91 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), mencerminkan prinsip kehati-hatian pengelolaan anggaran yang konsisten.
Airlangga juga mengungkapkan proses aksesi Indonesia ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) terus menunjukkan kemajuan. Indonesia telah menyampaikan laporan untuk 20 dari 24 bab yang dipersyaratkan atau sekitar 75% dari keseluruhan proses.
"Kita harus bekerja bersama-sama, sehingga apa yang kita capai betul-betul bisa dinikmati oleh seluruh stakeholders. Dengan fundamental ekonomi yang kuat, kebijakan fiskal yang prudent, dan kebersamaan antara pemerintah dan dunia usaha, kita ingin menjaga ketahanan ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan inklusif," kata Airlangga.
Untuk menopang target ambisius pada periode berikutnya, pemerintah menyiapkan kerangka makroekonomi yang mencakup proyeksi pertumbuhan di angka enam persen dengan tingkat inflasi yang dijaga pada level 2,5 persen.
Guna mencapai target transformatif tersebut, strategi penguatan tidak lagi bertumpu pada pola konvensional, melainkan mengandalkan enam mesin pertumbuhan baru yang mencakup hilirisasi industri hulu, kemandirian energi nasional melalui implementasi biodiesel berkelanjutan, serta penguatan ekosistem finansial berbasis komoditas mulia.
Selain itu, transformasi struktural juga diarahkan pada optimalisasi devisa hasil ekspor, akselerasi sektor ekonomi digital berbasis kecerdasan buatan, serta pengembangan kawasan-kawasan khusus ekonomi strategis.
Di sektor ketenagakerjaan dan pemerataan kesejahteraan, intervensi kebijakan difokuskan pada perluasan akses pembiayaan inklusif bagi pelaku usaha mikro serta peningkatan daya saing sumber daya manusia melalui program vokasi berstandar global.










