TVRINews, Jakarta
Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menegaskan komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat proses transisi energi dan memperkuat upaya pengendalian iklim.
Hal itu dikatakannya saat menemui sejumlah lembaga keuangan yang tergabung dalam GFANZ (Glasgow Financial Alliance for Net Zero), di antaranya Deutsche Bank, Citi, Standard Chartered, HSBC, MUFG, dan Bank of America.
Dalam pertemuan tersebut, Eddy memaparkan potensi besar proyek Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia serta peluang pembiayaan bagi lembaga keuangan yang memiliki komitmen terhadap pembiayaan hijau (green financing).
"Saya juga menyampaikan potensi proyek Energi Baru Terbarukan (EBT) dan peluang pembiayaan bagi bank-bank yang memiliki kepedulian tinggi terhadap green financing," kata Eddy, dikutip dari siaran persnya, Minggu, 28 Juni 2026.
“Pembahasannya komprehensif mencakup kebijakan, legislasi, investasi dan pembiayaan, serta dukungan yang siap diberikan baik oleh kami sebagai pimpinan MPR, maupun teman-teman yang tergabung di KADIN," lanjutnya.
Eddy yang merupakan mantan praktisi perbankan dan keuangan internasional selama 26 tahun juga mendengarkan dengan saksama permasalahan dan keluhan yang disampaikan para bankir dalam pertemuan tersebut, khususnya tantangan dan hambatan di Indonesia.
“Sebagai mantan pelaku perbankan di lembaga keuangan asing, saya mengerti keluhan dan hambatan yang mereka temui, mulai dari proses perizinan yang lama dan berlapis, inkonsistensi kebijakan, sampai dengan regulasi yang kerap berubah," ujar Eddy.
Ia mengaku prihatin karena sejumlah persoalan yang dikeluhkan investor saat ini masih serupa dengan tantangan yang dihadapinya ketika masih berkarier di sektor perbankan sekitar 15 tahun lalu.
“Yang saya sayangkan, keluhan hari ini masih sama dengan permasalahan yang dihadapi ketika saya masih pelaku perbankan 15 tahun yang lalu. Oleh karena itu saya yakinkan para bankir bahwa pemerintah Presiden Prabowo telah bertekad untuk memangkas birokrasi dan inefisiensi untuk meningkatkan kemudahan berusaha di Indonesia," tegasnya.
Eddy juga menegaskan komitmennya untuk membuka ruang komunikasi bagi lembaga pembiayaan yang menghadapi kendala dalam proses investasi dan bisnis di Indonesia. Ia bahkan menawarkan diri menjadi mitra diskusi apabila terdapat hambatan yang menyebabkan proyek-proyek EBT mengalami keterlambatan.
Menurut Eddy, percepatan transisi energi menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus memenuhi komitmen pengurangan emisi karbon.
“Saat ini kita justru perlu mempercepat proses transisi energi, untuk memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus melaksanakan komitmen untuk pengurangan emisi karbon. Saya akan proaktif membantu akselerasi pembiayaan proyek-proyek EBT, agar Indonesia terdepan dalam mengembangkan potensi EBT yang jumlahnya besar dan melimpah," pungkasnya.










