TVRINews – Banyumas
Inisiatif kolaborasi bersama Kementerian Koperasi di Banyumas resmi diluncurkan guna memperkuat ketahanan energi nasional berbasis ekonomi kerakyatan.
Dalam memperkuat kemandirian energi domestik dari tingkat pedesaan. PT Pertamina Patra Niaga bersama Kementerian Koperasi (Kemenkop) meluncurkan proyek percontohan pengumpulan minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) yang dimotori oleh jaringan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Inisiatif yang diresmikan di Desa Dawuhan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, ini dirancang untuk mengintegrasikan potensi limbah rumah tangga ke dalam rantai pasok industri energi nasional.
Program tersebut tidak hanya berorientasi pada transisi energi hijau, tetapi juga bertujuan membuka sumber pendapatan baru bagi anggota koperasi melalui tata kelola ekonomi yang berkelanjutan.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menjelaskan bahwa program ini menjembatani potensi sumber daya domestik dengan kebutuhan industri energi melalui integrasi dari hulu hingga hilir. Menurutnya, pemanfaatan limbah dapur warga menjadi fondasi penting dalam penyediaan pasokan energi masa depan.
"Melalui koperasi, kami memperkuat rantai pengumpulan dari tingkat akar rumput. Dengan kapabilitas industri yang dimiliki, kami memastikan limbah rumah tangga ini bertransformasi menjadi solusi energi berkelanjutan," ujar Simon dikutip Sabtu 31 Oktober 2026.
Ia menambahkan, Pertamina telah membuktikan kemampuan teknis dalam mengolah UCO menjadi bahan bakar avtur nabati atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Komoditas ramah lingkungan tersebut bahkan telah melalui serangkaian uji terbang ketat, mulai dari pesawat militer jenis CN235, maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia, hingga penerbangan komersial perdana Pelita Air rute Jakarta–Denpasar pada tahun lalu.
Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan bahwa kerja sama ini memadukan dua agenda penting, yakni peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat dan pelestarian lingkungan hidup. Pemerintah menargetkan model percontohan di Banyumas ini dapat direplikasi secara nasional.
"Minyak jelantah yang dikumpulkan dari rumah tangga selanjutnya disalurkan kepada PT Pertamina Patra Niaga untuk diproses menjadi bahan bakar avtur penerbangan. Bahkan, terbuka peluang lebar bagi Indonesia untuk mengekspor produk energi hijau ini ke pasar global," kata Ferry.
Ferry memaparkan, aspek perlindungan lingkungan menjadi landasan utama gerakan ini mengingat satu liter minyak jelantah yang dibuang secara sembarangan memiliki potensi pencemaran setara dengan satu juta liter air bersih. Oleh karena itu, kehadiran KDKMP diharapkan mampu mengubah paradigma masyarakat terhadap pengelolaan limbah domestik melalui kampanye bertajuk "Jelantah Jadi Berkah".
Sebagai tahap awal, uji coba pengoperasian ini melibatkan empat koperasi di Kabupaten Banyumas, yakni KDMP Dawuhan, KKMP Kober, KKMP Karanglewas Lor, dan KKMP Karangwangkal. Program percontohan tersebut dijadwalkan berlangsung selama empat bulan dengan target volume pengumpulan mencapai 500.000 liter.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menyatakan kesiapan infrastruktur perusahaan dalam mengolah bahan baku tersebut menjadi produk bernilai tinggi. Kilang Cilacap tercatat sebagai salah satu fasilitas yang telah sukses memproduksi SAF menggunakan katalis inovasi dalam negeri, yakni Katalis Merah Putih. Ke depan, pengolahan serupa juga akan dikembangkan di fasilitas kilang lainnya seperti Balongan, Dumai, dan Plaju demi menjamin kesinambungan pasokan energi nasional.










