TVRINews – Jakarta
Penyusutan harga pangan meredam tekanan ekonomi, sementara biaya pendidikan domestik melanjutkan tren kenaikan musiman.
Perekonomian nasional mencatat dinamika menarik pada awal paruh kedua tahun ini. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami deflasi sebesar 0,14% secara bulanan (month-to-month) pada Juli 2026, berbalik arah dari inflasi bulan sebelumnya yang berada di level 0,44%.
Capaian tersebut turut dibarengi oleh pelambatan laju inflasi tahunan (year-on-year) menjadi 2,88%, dari posisi sebelumnya yang tercatat sebesar 3,34% pada Juni.
Penyusutan harga secara bulanan ini utamanya dikendalikan oleh koreksi tajam pada sektor pangan bergejolak (volatile food). Komoditas hortikultura seperti bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, serta tomat mengalami penurunan harga yang signifikan akibat masuknya periode panen raya di berbagai daerah sentra produksi.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menduduki posisi sentral sebagai penyumbang terbesar terhadap penurunan indeks harga secara keseluruhan. Sektor tersebut mencatat deflasi hingga 0,89% dan memberikan andil deflasi sebesar 0,26% terhadap perekonomian nasional.
"Selain kelompok makanan, minuman, dan tembakau, sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya turut berkontribusi terhadap deflasi sebesar 0,06%, dengan besaran deflasi tercatat mencapai 0,89%," ujar Ateng dalam keterangannya Senin 3 Agustus 2026.
Kendati tekanan harga secara umum mereda akibat pasokan pangan yang melimpah, dinamika berbeda terlihat pada komponen inti. Tekanan inflasi inti justru terpantau merangkak naik sebesar 0,14% secara bulanan. Kenaikan tersebut terutama disumbangkan oleh sektor pendidikan yang mengalami inflasi sebesar 0,55% dengan andil terhadap inflasi umum mencapai 0,03%.
Momentum masuknya tahun ajaran baru sekolah menjadi pendorong utama kenaikan biaya di sektor ini. Ateng memaparkan bahwa komoditas yang mendominasi dorongan inflasi pendidikan meliputi biaya sekolah tingkat dasar, taman kanak-kanak, serta lembaga bimbingan belajar, di mana masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,01%.
Sejumlah komponen pendidikan lain turut mencatatkan penyesuaian harga meski dengan andil yang relatif kecil terhadap inflasi secara keseluruhan, seperti biaya sekolah menengah pertama.
Peningkatan tarif juga teridentifikasi pada biaya pendidikan tingkat menengah atas, perguruan tinggi, taman pendidikan Al-Qur'an, kelompok bermain, pendidikan anak usia dini, hingga kursus keterampilan penunjang seperti bahasa asing dan matematika.
Kenaikan biaya pendidikan ini dikategorikan sebagai bagian dari inflasi inti, yakni komponen yang merefleksikan persistensi tekanan harga dan memiliki keterkaitan erat dengan siklus permintaan domestik.
Berbeda dengan komoditas pangan yang sangat dipengaruhi oleh faktor musim dan cenderung fluktuatif, struktur biaya pendidikan memiliki karakteristik yang kaku dan jarang mengalami penurunan setelah penyesuaian tarif diberlakukan.









