TVRINews, Jakarta
Upaya memperluas akses masyarakat terhadap hunian terjangkau dinilai tidak hanya berkaitan dengan harga. Aspek kelayakan, keamanan, dan kenyamanan juga menjadi perhatian, terutama karena Indonesia merupakan negara yang memiliki risiko bencana, termasuk gempa bumi.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan dalam Danantara Housing Expo 2026 yang mempertemukan berbagai pelaku ekosistem perumahan, mulai dari pengembang, penyedia pembiayaan, hingga industri pendukung.
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan kolaborasi antar pelaku industri diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap hunian yang layak sekaligus mendorong pertumbuhan sektor perumahan.
“Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap hunian yang layak dan terjangkau, sekaligus mendukung pertumbuhan sektor perumahan yang memiliki dampak ekonomi luas bagi berbagai industri terkait,” kata Rosan Roeslani dalam keterangan yang diterima tvrinews, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Selain menghadirkan pilihan hunian, pameran tersebut juga menjadi wadah untuk memperkenalkan inovasi yang dapat mempercepat dan mengefisienkan pembangunan rumah.
Salah satunya ditampilkan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk atau SIG melalui Bata Interlock Presisi (BIP). Material konstruksi tersebut merupakan inovasi karya anak bangsa dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN hampir 100 persen.
Di area pameran, SIG menampilkan model rumah tapak yang dibangun menggunakan BIP. Bata tersebut dilengkapi sistem pin dan lock pada bagian samping serta atas, sehingga setiap bata dapat saling mengunci.
Sistem pemasangannya menyerupai penyusunan balok Lego. Bata disusun secara presisi dan saling mengait sehingga proses pemasangannya lebih sederhana dibandingkan metode konvensional.
Direktur Sales dan Marketing SIG Dicky Saelan mengatakan teknologi BIP dikembangkan untuk menghadirkan konstruksi yang cepat, efisien, dan memiliki ketahanan struktur yang baik.
“Bata Interlock Presisi kami kembangkan untuk menjawab kebutuhan konstruksi yang cepat, efisien, sekaligus memiliki ketahanan struktur yang baik. Dengan sistem interlocking, proses pembangunan rumah menjadi lebih sederhana dan presisi karena bata tinggal disusun dan dikunci sesuai desain,"ujar Dicky Saelan.
SIG mencatat rumah tipe 36 yang menggunakan BIP dapat dibangun dalam waktu sekitar 21 hingga 30 hari. Waktu tersebut diklaim sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan pembangunan menggunakan metode konvensional.
Efisiensi waktu pembangunan juga dinilai berpotensi mengurangi biaya tenaga kerja. Berdasarkan perhitungan SIG, biaya pembangunan rumah tipe 36 menggunakan BIP dapat ditekan hingga sekitar 30 persen.
Dari sisi presisi, BIP memiliki dimensi 25 cm × 12,5 cm × 10 cm dengan pengendalian toleransi hingga 1 milimeter. Tingkat kepresisian tersebut membuat proses pemasangan lebih mudah dan menghasilkan dinding yang lebih rapi.
BIP dapat digunakan untuk kebutuhan dinding ekspos maupun non-ekspos yang kemudian dilapisi material finishing.
Dicky menambahkan, presisi menjadi salah satu faktor penting dalam teknologi BIP karena turut menentukan kecepatan pemasangan dan kualitas hasil akhir bangunan.
“Presisi menjadi bagian penting dari teknologi ini. Ketika ukuran dan sudut setiap bata terjaga, proses pemasangan menjadi lebih cepat dan hasil dinding lebih rapi. Jadi, efisiensi tidak hanya terjadi pada waktu pembangunan, tetapi juga pada kualitas hasil akhirnya," tambahnya.
Teknologi BIP juga dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan pembangunan rumah di wilayah rawan gempa. Sistem interlocking pada bata dirancang untuk memperkuat kait antarbata.
Selain itu, elemen tertentu dapat digunakan sebagai ring balok dan kolom praktis dengan tulangan serta mortar setiap 80 hingga 120 sentimeter. BIP juga diklaim mampu menahan tekanan minimal 70 kg/cm².
SIG menyebut BIP telah lolos Uji Siklik Dinding Bata Interlock dan Modular 2D dari PUSKIM sesuai SNI 1726-2012 untuk Rumah PIB. Teknologi tersebut juga disebut telah memperoleh sertifikat Kliring Teknologi Rumah Bata Interlock dari Ditjen Cipta Karya PUPR serta mendapat persetujuan Kementerian PUPR dan BNPB untuk rumah tahan gempa.
Menurut Dicky, teknologi konstruksi yang mampu mempercepat pembangunan menjadi penting, terutama dalam penyediaan hunian di daerah rawan gempa maupun proses pemulihan pascabencana.
“Dalam konteks daerah rawan gempa maupun pemulihan pascabencana, kecepatan membangun rumah menjadi sangat penting. Teknologi seperti BIP dapat menjadi salah satu alternatif untuk mempercepat penyediaan hunian dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan ketahanan bangunan,"tandasnya.
Kehadiran BIP dalam Danantara Housing Expo 2026 menjadi salah satu contoh inovasi industri material konstruksi yang diarahkan untuk mendukung penyediaan hunian yang layak, aman, dan terjangkau bagi masyarakat.










