TVRINews, Jakarta
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor ekonomi kreatif terus menunjukkan peran strategis dalam perekonomian nasional. Sepanjang 2025, sektor ini mampu menyerap 27,4 juta tenaga kerja, atau sekitar 18,7 persen dari total tenaga kerja di Indonesia, sekaligus menjadi bukti bahwa ekonomi kreatif tumbuh secara inklusif.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, ekonomi kreatif tidak hanya mencatat pertumbuhan yang tinggi, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar.
"Di tahun 2025, tenaga kerja yang terserap di sektor ekonomi kreatif mencapai 27,4 juta orang atau sekitar 18,7 persen dari total penyerapan tenaga kerja di Indonesia," ujar Amalia dalam acara Sensus Ekonomi 2026 Sektor Ekonomi Kreatif, Jakarta, Senin, 29 Juni 2026.
Menurutnya, karakter tersebut menjadikan ekonomi kreatif sebagai sektor yang mampu mendorong pertumbuhan sekaligus memberikan manfaat yang dirasakan masyarakat luas.
"Ekonomi kreatif ini tumbuh cepat, tetapi juga inklusif. Artinya, pertumbuhan ekonominya mampu menciptakan lapangan kerja dan memberikan efek berganda yang besar bagi masyarakat," ucapnya.
BPS mencatat, tenaga kerja ekonomi kreatif paling banyak tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Ketiga provinsi tersebut menyumbang sekitar 57,81 persen dari total tenaga kerja sektor ekonomi kreatif nasional.
Dari sisi subsektor, lapangan kerja terbesar masih berasal dari kuliner, disusul fesyen dan kriya. Sementara itu, subsektor berbasis digital seperti aplikasi dan game developer, arsitektur, serta desain semakin banyak diisi oleh generasi muda.
Data BPS menunjukkan 36,63 persen pekerja ekonomi kreatif berasal dari generasi milenial, disusul Gen X sebesar 27,94 persen dan Gen Z sebesar 26,40 persen. Pada subsektor aplikasi dan game developer, lebih dari 70 persen pelakunya merupakan gabungan generasi milenial dan Gen Z.
Selain menyerap banyak tenaga kerja, sektor ekonomi kreatif juga mencatat pertumbuhan yang melampaui ekonomi nasional. Pada 2025, ekonomi kreatif tumbuh 6,86 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,11 persen.
Amalia menilai transformasi digital menjadi salah satu pendorong utama perkembangan sektor ini. Perubahan pola usaha, mulai dari pemanfaatan marketplace, media sosial, kecerdasan artifisial (AI), hingga platform streaming, membuat ekonomi kreatif semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi.
BPS berharap data statistik ekonomi kreatif yang disusun secara berkala dapat menjadi dasar bagi pemerintah, dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran untuk mendorong pertumbuhan sektor tersebut sekaligus memperluas penciptaan lapangan kerja di Indonesia.










