TVRINews, Jakarta
Tiga Pilar Makroekonomi Nasional Tunjukkan Tren Positif.
Kinerja perekonomian nasional sepanjang paruh kedua tahun ini mencatatkan tren penguatan yang konsisten. Berdasarkan data resmi yang dirilis Kemenko Perekonomian awal Agustus 2026, stabilitas makroekonomi domestik berada pada jalur yang tepat, ditopang oleh inflasi yang terkendali, kebangkitan sektor manufaktur, serta perbaikan signifikan pada struktur neraca perdagangan.
Pemerintah menegaskan bahwa kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi dengan baik menjadi kunci utama dalam menjaga daya beli masyarakat serta meningkatkan kepercayaan investor global.
Di tengah dinamika geopolitik internasional yang penuh ketidakpastian, fondasi ekonomi dalam negeri terbukti memiliki daya tahan yang memadai.
(Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga (Foto: @PerekonomianRI))
"Kami terus memastikan keseimbangan antara stabilitas harga dan stimulus pertumbuhan tetap terjaga," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, kutip selasa 4 Agustus 2026.
Menurutnya, penguatan ketahanan pangan dan energi merupakan instrumen krusial untuk melindungi perekonomian domestik dari gejolak eksternal.
Inflasi Terkendali dan Penguatan Sektor Riil
Laju inflasi pada Juli 2026 berada dalam kisaran target yang ditetapkan pemerintah, yakni pada level 2,88 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini menunjukkan perbaikan dibanding bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,34 persen.
Meredanya tekanan harga secara umum dipicu oleh stabilisasi pasokan komoditas pangan strategis, termasuk cabai dan produk hortikultura lainnya, menyusul peningkatan produktivitas di sentra-sentra pertanian utama.
Sementara itu, sektor manufaktur nasional kembali menunjukkan geliat positif setelah keluar dari fase kontraksi. Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index / PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2026 tercatat di level 50,2, naik dari 46,9 pada bulan sebelumnya. Ekspansi ini didorong oleh lonjakan permintaan domestik yang turut memicu peningkatan penyerapan tenaga kerja di sektor industri pengolahan.
Dari sisi perdagangan internasional, surplus kumulatif neraca perdagangan periode Januari hingga Juni 2026 mencapai USD3,58 miliar. Meskipun defisit sektor energi masih terjadi seiring transisi menuju kemandirian pasokan domestik, penyempitan defisit bulanan pada Juni 2026 menegaskan bahwa kinerja ekspor nonmigas, terutama produk berbasis hilirisasi, mampu menjadi penopang utama daya tahan eksternal Indonesia.









