TVRINews – Jakarta
Rupiah dibuka menguat 0,11 persen ke Rp18.010 per dolar AS di tengah langkah intervensi Bank Indonesia dan rencana reformasi transparansi bursa.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menghentikan tren penurunan dan dibuka menguat tipis pada perdagangan Selasa pagi 20 Oktober 2026. Pergerakan ini terjadi di tengah langkah intervensi berkelanjutan oleh Bank Indonesia serta respon otoritas bursa terhadap perhatian investor global.
Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda menguat 0,11 persen ke level Rp18.010 per dolar AS pada pembukaan pasar, setelah ditutup pada posisi Rp18.030 per dolar AS pada hari sebelumnya. Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan mata uang Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia tercatat melandai 0,05 persen ke posisi 101,930 pada pukul 09.00 WIB.
Penguatan terbatas ini memproyeksikan dinamika pasar keuangan domestik yang masih dibayangi penyesuaian stabilitas nilai tukar dan respons kelembagaan terhadap sentimen global.
Intervensi Berkelanjutan dan Stabilitas Pasar
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan komitmen bank sentral dalam mengawal stabilitas nilai tukar di tengah tingginya ketidakpastian pasar finansial global. Hal tersebut disampaikannya usai melaporkan perkembangan inflasi dan stabilitas nilai tukar kepada Presiden Prabowo Subianto.
"Tapi so far dua hari ini, rupiah bisa kami jaga stabilitasnya sehingga terjadi memang sedikit perlambatan dan itu juga sesuai dengan beberapa negara di emerging market," ujar Destry.
Guna menahan ketidakpastian, Bank Indonesia mengombinasikan langkah intervensi langsung di pasar spot, non-deliverable forward (NDF), serta domestic non-deliverable forward (DNDF). Bank sentral juga memberlakukan skema insentif biaya lindung nilai (hedging), yang menurut Destry telah menstimulasi masuknya aliran dana asing melalui transaksi FX swap dan DNDF hingga mendekati US8miliarsampaiUS9 miliar.
Respons BEI dan Langkah Danantara
Di sektor pasar modal, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah strategis guna menjawab perhatian penyedia indeks global, MSCI. Pasca-pertemuan bilateral yang berlangsung Senin (19/10/2026), BEI berencana mengeluarkan saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) yang diperkirakan berbobot 18 persen terhadap indeks dari formulasi perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Langkah tersebut akan didukung dengan perluasan keterbukaan informasi kepemilikan afiliasi di atas 1 persen guna meningkatkan transparansi dan kepercayaan investor global.
Dukungan terhadap pasar saham domestik juga ditunjukkan oleh Danantara, yang menyatakan kesiapannya memperbesar porsi kepemilikan saham pada BUMN berfundamental solid guna meredam volatilitas pasar.
Pelaku pasar kini mencermati arah kebijakan moneter Bank Indonesia yang tengah menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20–21 Oktober 2026. Hasil penetapan suku bunga acuan yang dijadwalkan meluncur pada Rabu (21/10/2026) diproyeksikan menjadi pendorong utama arah pergerakan aset keuangan domestik dalam jangka pendek.










