TVRINews, Jakarta
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan realisasi subsidi dan kompensasi energi mengalami lonjakan signifikan pada awal 2026. Hingga akhir Maret, total penyaluran tercatat mencapai Rp118,7 triliun, atau meningkat 266,5 persen dibanding periode sebelumnya.
Kenaikan ini dipengaruhi oleh tekanan harga minyak dunia, penguatan dolar Amerika Serikat, serta meningkatnya konsumsi BBM, LPG, dan listrik di dalam negeri.
“Realisasi subsidi dan kompensasi dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak, nilai tukar rupiah, serta peningkatan volume konsumsi energi,” tulis Kemenkeu dalam laporan APBN KiTa, dikutip Selasa, 5 Mei 2026.
Rp52,2 triliun, sementara kompensasi mencapai Rp66,5 triliun. Pemerintah menyebut kondisi global yang masih bergejolak turut mendorong kenaikan beban fiskal energi.
Realisasi BBM bersubsidi meningkat menjadi 3,17 juta kiloliter atau naik 9,2 persen dibanding tahun sebelumnya. LPG 3 kilogram juga naik menjadi 1,419 juta ton, sementara pelanggan listrik bersubsidi bertambah menjadi 42,9 juta pelanggan.
Di sektor lain, subsidi pupuk naik menjadi 1,9 juta ton, dan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) turut tumbuh menjadi 1,1 juta debitur.
“Permintaan energi dan dukungan terhadap sektor masyarakat masih menunjukkan tren peningkatan,” demikian laporan Kemenkeu.
Kemenkeu menegaskan, fluktuasi harga energi global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi beban subsidi, meski Indonesia telah memiliki pengalaman dalam menghadapi kondisi serupa pada krisis sebelumnya.










