TVRINews – Jakarta
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menembus level Rp17.320, memicu langkah strategis Pemerintah dan Bank Indonesia.
Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional menyusul tekanan hebat pada nilai tukar rupiah yang menyentuh rekor terlemah sepanjang sejarah.
Pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin 4 Mei 2026, mata uang Garuda terdepresiasi ke level Rp17.320 per dolar AS, sebuah pergerakan yang dipicu oleh meningkatnya eskalasi ketidakpastian global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa volatilitas ini bukan merupakan fenomena tunggal yang hanya dialami oleh Indonesia.
Menurutnya, dinamika pasar keuangan global saat ini memberikan tekanan serupa terhadap berbagai mata uang dunia.
"Pemerintah tentu akan terus memantau situasi ini. Perlu dipahami bahwa pelemahan kurs tidak hanya dialami oleh Indonesia, tetapi juga dihadapi oleh berbagai negara lain," ujar Airlangga di Jakarta, Senin 4 Mei
Ia menambahkan bahwa pemerintah secara konsisten melakukan monitoring terhadap pergerakan mata uang di negara-negara mitra atau peer countries guna memastikan langkah kebijakan yang diambil tetap relevan dengan kondisi regional.
Strategi Intervensi Bank Indonesia
Sebagai langkah mitigasi, Bank Indonesia memastikan akan meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing.
Berdasarkan data, BI akan menempuh langkah-langkah pro-market untuk menjaga daya tarik aset domestik di mata investor asing, terutama di tengah sentimen geopolitik yang memanas di Timur Tengah.
Operasi pasar akan dilakukan melalui tiga jalur utama:
1. Transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.
2. Transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
3. Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara berkesinambungan.
Meski berada di level psikologis yang menantang, BI mencatat bahwa secara tahun berjalan (year to date), pelemahan rupiah berada di angka 3,54%.
Ketahanan eksternal Indonesia juga dinilai masih cukup solid dengan posisi cadangan devisa yang bertahan di level US$148,2 miliar per akhir Maret 2026.










