TVRINews, Jakarta
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan subsidi biaya angkut untuk membantu pemerintah daerah yang mengalami keterbatasan pasokan daging ayam ras. Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi terhadap fluktuasi harga daging ayam ras di sejumlah daerah.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan mengatakan, peningkatan permintaan daging ayam ras turut dipengaruhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah. Selain itu, harga pakan ternak juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga ayam.
"Jadi begini, ini ada kebutuhan semakin banyak, mungkin dalam bulan-bulan terakhir terjadi kenaikan, tapi masih harga yang wajar, masih di batasnya, tidak secara keseluruhan. Di daerah pun masih banyak yang murah. Hanya tempat-tempat tertentu saja yang mungkin produsen ayamnya kurang," ujar Hermawan dalam keterangan tertulis, dikutip, Senin, 5 Oktober 2026.
Menurut Hermawan, persoalan biaya distribusi menjadi salah satu kendala pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga pangan strategis, terutama daerah yang bukan merupakan sentra produksi ayam.
Karena itu, Bapanas membuka opsi pemberian subsidi biaya angkut dari daerah produsen menuju wilayah yang mengalami kekurangan pasokan.
"(Untuk) angkutan distribusi, kita bisa subsidi dari Bapanas, supaya penyerapan produksi dari tempat produsen yang lebih, bisa menyebar ke seluruh daerah. Bapanas memastikan bahwa mana daerah yang kurang (pasokan) akan disuplai dari daerah-daerah yang produsen. Kita anggaran masih ada," jelasnya.
Berdasarkan pemantauan Bapanas, harga rata-rata daging ayam ras secara nasional per 2 Oktober 2026 berada di level Rp40.961 per kilogram. Harga tersebut turun 0,62 persen dibandingkan sepekan sebelumnya yang mencapai Rp41.218 per kilogram.
Jika dibandingkan dengan sebulan sebelumnya, harga daging ayam ras juga turun 0,82 persen dari Rp41.300 per kilogram.
Hermawan mengimbau pemerintah daerah yang memiliki produksi ayam rendah dan mengalami kenaikan harga untuk mengajukan subsidi distribusi kepada Bapanas.
"Untuk daerah-daerah yang produksinya kecil, kemudian mengalami kenaikan harga, kita imbau supaya pemerintah daerah meminta kepada kami untuk subsidi masalah distribusinya. Mereka terkendala biasanya (karena) distribusinya mahal," ucapnya.
Stok Ayam Diproyeksikan Surplus
Dari sisi ketersediaan, stok daging ayam ras hingga akhir 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 1 juta ton. Angka tersebut berasal dari stok awal tahun sekitar 200 ribu ton dan estimasi produksi dalam negeri sepanjang tahun yang mencapai 4,7 juta ton.
Sementara itu, kebutuhan konsumsi nasional diperkirakan sekitar 3,9 juta ton.
Kondisi surplus tersebut dinilai perlu dijaga secara proporsional agar keseimbangan harga daging ayam tetap terjaga dari tingkat peternak hingga konsumen.
Selain intervensi di sisi hilir melalui subsidi biaya angkut, pemerintah juga melakukan intervensi di tingkat hulu dengan menjaga ketersediaan jagung sebagai bahan baku pakan ternak.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan bagi peternak unggas.
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menginstruksikan Perum Bulog untuk melanjutkan penyaluran jagung pakan dengan harga yang lebih ekonomis bagi peternak.
“Menambah dan memperpanjang SPHP. Nah itu Bulog, tanggung jawab saya, Bulog, perpanjang sepanjang-panjangnya. Selama peternak butuh, kasih. Titik. Mudah, jangan ada basa-basi. SPHP Bulog kita lanjutkan," ungkap Amran.
Program SPHP jagung pakan 2026 tahap pertama telah dimulai sejak awal Mei. Kuota penyaluran tahap tersebut mencapai 213,2 ribu ton untuk memenuhi kebutuhan jagung pakan bagi peternak skala usaha mikro, kecil, dan menengah.
Hingga 2 Oktober 2026, realisasi penyaluran SPHP jagung pakan telah mencapai 71,36 persen dari total target tahap pertama dan kedua sebesar 241,2 ribu ton.
Secara kuantitas, sebanyak 172,1 ribu ton jagung telah diakses peternak yang tersebar di 29 provinsi. Jawa Timur menjadi daerah dengan jumlah peternak penerima terbanyak, yakni 3.690 peternak, disusul Jawa Tengah sebanyak 2.017 peternak.
Pemerintah juga menyiapkan tambahan alokasi SPHP jagung pakan sebesar 150 ribu ton. Tambahan tersebut akan diproses untuk menambah penugasan kepada Perum Bulog.
Kebijakan tersebut diharapkan menjaga ketersediaan jagung pakan sekaligus membantu mempertahankan keseimbangan harga ayam ras dan melindungi keberlangsungan usaha peternak unggas nasional.










