TVRINews, Jakarta
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan penyaluran 1,34 juta ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sepanjang Januari hingga Juni 2026 berkontribusi menjaga stabilitas harga beras sekaligus menekan laju inflasi di tingkat nasional. Beras yang disalurkan berasal dari hasil serapan produksi dalam negeri melalui Perum Bulog.
Kepala Bapanas yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan stabilitas harga beras nasional tidak terlepas dari optimalisasi penyaluran stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
"Inflasi dan harga beras secara nasional masih terjaga, salah satunya ditopang oleh penyaluran stok CBP yang bersumber dari hasil serapan produksi beras dalam negeri," kata Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam keterangan yang dikutip, Kamis, 2 Juli 2026.
Bapanas mencatat, total penyaluran CBP selama semester pertama 2026 mencapai 1,34 juta ton. Penyaluran tersebut dilakukan melalui berbagai program pemerintah.
Sebanyak 221,05 ribu ton disalurkan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) pada Januari-Februari.
Selanjutnya, pada periode Maret hingga Juni, penyaluran SPHP kembali dilakukan dengan total 406,5 ribu ton. Selain itu, pemerintah telah menuntaskan penyaluran bantuan pangan untuk alokasi Februari dan Maret. Hingga akhir Juni, bantuan tersebut telah diterima oleh 33,14 juta keluarga penerima manfaat (KPM) dengan total beras yang disalurkan mencapai 662,86 ribu ton.
Sementara itu, sisa stok CBP dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan golongan anggaran aparatur sipil negara (ASN) di wilayah tertentu sebanyak 40,72 ribu ton dan penanganan bencana alam sebesar 11,37 ribu ton.
Amran mengatakan, stok beras pemerintah saat ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Ia juga mengungkapkan adanya proyeksi peningkatan produksi beras nasional berdasarkan perkiraan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO).
"Stok kita hari ini tertinggi sepanjang sejarah, selama kita merdeka. Ini stoknya hari ini 5,1 juta ton. (Kemudian) FAO (Food and Agriculture Organization) baru mengeluarkan pengumuman, justru produksi kita melompat, estimasi di 2026 itu 38 juta ton,"jelasnya.
Menurutnya, apabila produksi beras tahun 2026 minimal menyamai capaian sekitar 34 juta ton seperti pada 2025, Indonesia masih berpotensi mencatat surplus sekitar 4 juta ton dibandingkan tahun 2024. Jika proyeksi FAO sebesar 38 juta ton tercapai, maka surplus produksi diperkirakan akan meningkat lebih besar.
"Kalau ini terjadi (prediksi FAO), artinya 8 juta ton surplus tambah 4 juta, itu (bisa sampai) 13 juta ton, sehingga kita bangun gudang cepat. Ada 100 gudang. Anggarannya Rp 5 triliun dan gudang yang bisa menyimpan 2 sampai 3 tahun beras,"tambahnya.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi beras secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juni 2026 sebesar 3,98 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang tercatat 4,55 persen.
Adapun secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi beras berada di level 0,45 persen atau masih di bawah satu persen sehingga mencerminkan harga beras yang relatif terkendali.
"Di tingkat eceran terjadi inflasi (beras) secara month to month sebesar 0,45 persen dan secara year on year terjadi inflasi di tingkat eceran sebesar 3,98 persen,"ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.
Secara historis, inflasi beras tahunan pada Juni 2026 juga jauh lebih rendah dibandingkan Juni 2024 yang sempat mencapai 11,88 persen. Angka tersebut hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan Juni 2025 yang berada di level 3,38 persen.
BPS juga mencatat inflasi beras bulanan masih lebih rendah dibandingkan komoditas bawang merah dan bawang putih. Pada Juni 2026, bawang merah mengalami inflasi 6,52 persen dengan andil 0,04 persen, sedangkan bawang putih mencatat inflasi 6,88 persen dengan andil 0,03 persen.
Sementara itu, andil beras terhadap inflasi bulanan hanya sebesar 0,02 persen.
Tren inflasi beras bulanan sepanjang 2026 juga menunjukkan pergerakan yang relatif stabil. Sejak Januari hingga Juni, inflasi berturut-turut tercatat sebesar 0,16 persen, 0,43 persen, 0,65 persen, 0,58 persen, 0,38 persen, dan 0,45 persen. Selama periode tersebut, inflasi beras bulanan belum pernah menembus level satu persen, menandakan harga beras di tingkat konsumen masih terkendali.










