TVRINews, Jakarta
Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026 di tengah meningkatnya tekanan sentimen global. Mata uang Garuda tercatat turun 0,47 persen ke posisi Rp18.105 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan rupiah dipengaruhi penguatan indeks dolar AS yang naik ke level 100,11. Selain itu, lonjakan harga minyak dunia turut menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Harga minyak mentah Brent sempat melesat 3,6 persen hingga menyentuh US$96,47 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak mendekati US$94 per barel sebelum memangkas sebagian penguatannya.
Kenaikan harga minyak dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke arah Israel. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gagalnya upaya gencatan senjata di kawasan dan risiko terganggunya pasokan energi global.
Situasi itu membuat investor cenderung mengurangi kepemilikan aset berisiko dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Tidak hanya rupiah, sejumlah mata uang Asia juga mengalami tekanan. Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam dan menyentuh level terendah sejak Januari 2026.
Tekanan terhadap ringgit dipicu antisipasi pasar terhadap kemungkinan kebijakan yang lebih hawkish dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), serta meningkatnya ketidakpastian politik menjelang pemilu di beberapa negara bagian Malaysia.
Mayoritas mata uang kawasan Asia pagi ini bergerak di zona merah. Setelah ringgit Malaysia, pelemahan juga dialami baht Thailand, rupiah, dolar Taiwan, peso Filipina, hingga yen Jepang.Di sisi lain, won Korea Selatan berhasil menguat, diikuti yuan offshore China, yuan domestik China, serta dolar Singapura.
Pelaku pasar juga menantikan rilis data cadangan devisa Indonesia yang dinilai akan menjadi sentimen penting bagi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Pada akhir April 2026, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$146,2 miliar atau setara 5,8 bulan impor. Angka tersebut masih berada jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor, sehingga dinilai mencerminkan ketahanan eksternal Indonesia yang masih cukup kuat di tengah gejolak pasar global.
Namun demikian, cadangan devisa Indonesia terus mengalami penurunan dalam empat bulan terakhir. Sepanjang kuartal I-2026, cadangan devisa tercatat menyusut sekitar US$8,2 miliar. Setelah ditambah penurunan pada April, total penyusutannya mencapai sekitar US$10,27 miliar.










