TVRINews, Jakarta
Indonesia Eximbank Institute mencatat permintaan global terhadap produk tekstil hulu, seperti benang, kain tenun, dan kain rajut, mulai menunjukkan tren pemulihan sepanjang 2025.
Kondisi ini membuka peluang bagi industri tekstil nasional untuk meningkatkan penetrasi pasar internasional, meski pangsa ekspor Indonesia masih menghadapi tekanan dari meningkatnya daya saing negara China, India, dan Vietnam.
Direktur Pelaksana Bisnis I LPEI, Anton Herdianto, mengatakan daya saing ekspor tekstil Indonesia saat ini ditopang oleh produk finished fabric yang porsinya mencapai sekitar 74 persen dari total ekspor TPT nasional. Menurutnya, keberlanjutan kinerja ekspor tidak hanya ditentukan oleh produsen garmen, tetapi juga oleh kekuatan seluruh rantai pasok industri.
“Buyer global kini tidak hanya mempertimbangkan harga yang kompetitif, tetapi juga kualitas produk, ketepatan pengiriman, traceability, kepatuhan terhadap standar internasional, hingga penggunaan material yang berkelanjutan. Karena itu, penguatan rantai pasok menjadi kunci untuk menjaga daya saing ekspor Indonesia,” kata Anton, dikutip dari siaran persnya, Rabu, 29 Juli 2026.
Indonesia Eximbank Institute memperkirakan ekspor tekstil nasional tetap tumbuh solid hingga tahun 2027 seiring prospek pertumbuhan global yang membaik dari ketidakpastian global dan proyeksi penurunan suku bunga global di masa mendatang. Kondisi ini diharapkan dapat meningkatkan konsumsi masyarakat global terhadap produk, seperti pakaian.
Ekspor tekstil nasional diperkirakan tumbuh sekitar 2 persen hingga 3,2 persen pada tahun 2026 dengan melihat realisasi pertumbuhan ekspor saat ini di level 1,3 persen, sementara pada tahun 2027 diperkirakan tumbuh hingga 3,5 persen sampai 4,0 persen. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap produk tekstil berkelanjutan, terutama di segmen pasar premium.
Menurut Anton, Indonesia memiliki modal yang kuat untuk menangkap peluang tersebut, terutama dari sisi biaya tenaga kerja yang kompetitif serta struktur industri yang telah terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Tantangannya kini adalah meningkatkan produktivitas, mempercepat modernisasi industri, dan memenuhi standar keberlanjutan yang semakin menjadi persyaratan utama di pasar ekspor.
Untuk mendukung transformasi tersebut, LPEI menyediakan berbagai fasilitas pembiayaan, penjaminan, asuransi, dan trade finance yang disesuaikan dengan kebutuhan eksportir.
Dukungan tersebut mencakup pembiayaan pra-pengapalan (pre-shipment) dan pascapengapalan (post-shipment), Trade Credit Insurance (TCI) untuk melindungi risiko gagal bayar dari pembeli luar negeri, serta Marine Cargo Insurance guna memberikan perlindungan selama proses pengiriman barang.
Hal ini juga sejalan dengan arahan Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, beberapa waktu lalu yang mendorong revitalisasi industri tekstil dan sepatu melalui penyediaan likuiditas yang terjangkau lewat Indonesia Eximbank/LPEI guna memperbarui permesinan dan meningkatkan daya saing global.
“Penguatan rantai pasok tekstil nasional membutuhkan kolaborasi yang erat. LPEI hadir tidak hanya melalui pembiayaan, tetapi juga layanan advisory dan market insight agar eksportir semakin siap memenuhi kebutuhan pasar global,” ujar Anton.
Melalui penguatan pembiayaan, peningkatan kapasitas industri, dan kolaborasi yang semakin erat antara pemerintah, LPEI, serta pelaku usaha, industri tekstil Indonesia diharapkan mampu meningkatkan daya saing sekaligus memperbesar kontribusinya terhadap ekspor nasional di tengah perubahan lanskap perdagangan global.









