TVRINews – Jakarta
BPS mencatat pelemahan nilai ekspor nonmigas sektor pertambangan hingga US$3 miliar.
Kinerja ekspor sektor pertambangan Indonesia menunjukkan tren pelemahan pada penutupan kuartal pertama tahun ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor nonmigas dari sektor pertambangan dan industri terkait lainnya terkontraksi sebesar 2,15 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi US$3 miliar pada Maret 2026.
Penurunan ini menjadi indikator penting bagi kesehatan ekonomi nasional, mengingat sektor ekstraktif merupakan salah satu pilar utama pendapatan devisa negara.
Tekanan pada Komoditas Mineral
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartanto, menjelaskan bahwa penurunan performa ini berakar pada merosotnya nilai jual sejumlah komoditas mineral di pasar internasional.
Beberapa komoditas yang mengalami tekanan signifikan antara lain lignit, bijih tembaga, serta mineral langka seperti niobium dan tantalum.
"Pelemahan ini didorong oleh penurunan nilai ekspor pada beberapa komoditas utama, termasuk lignit, bijih tembaga, zirconium, hingga aspal," ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin 4 Mei 2026.
Dinamika Ekspor Nasional
Secara agregat, total ekspor Indonesia pada Maret 2026 menyentuh angka US$22,53 miliar.
Angka tersebut mencerminkan penurunan sebesar 3,10 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sektor migas juga tidak luput dari tren negatif dengan penurunan tajam sebesar 11,84 persen, atau senilai US$1,28 miliar.
Di lini nonmigas, penurunan sebesar 2,52 persen dipengaruhi secara masif oleh sektor lemak dan minyak nabati yang merosot hingga 27,02 persen.
"Penurunan nilai ekspor bulan Maret ini sangat dipengaruhi oleh koreksi pada sektor nonmigas, khususnya komoditas lemak dan minyak hewan nabati yang memberikan andil penurunan sebesar 3,52 persen," tambah Ateng.
Pertumbuhan Kumulatif dan Sektor Pengolahan
Meski terjadi kontraksi bulanan, data kumulatif sepanjang Januari hingga Maret 2026 masih menunjukkan resiliensi dengan total nilai US$66,85 miliar, atau tumbuh tipis 0,34 persen dibandingkan tahun lalu.
Optimisme muncul dari sektor industri pengolahan yang menjadi motor penggerak utama pertumbuhan nonmigas dengan kontribusi sebesar 3,15 persen.
Penguatan pada sektor ini ditopang oleh komoditas bernilai tambah tinggi seperti nikel, kimia dasar organik, serta komponen semi konduktor, yang menandakan mulai berjalannya strategi hilirisasi industri di tengah fluktuasi harga komoditas mentah.










