TVRINews, Jakarta
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong penguatan daya saing industri kreatif nasional melalui peningkatan kapasitas pelaku industri kecil dan menengah (IKM), khususnya di sektor fesyen dan kriya. Upaya ini dilakukan untuk membantu pelaku usaha memahami perubahan perilaku konsumen yang semakin dinamis, terutama dari kalangan generasi muda.
Melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK), Kemenperin menggelar berbagai program pembinaan guna meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam membaca kebutuhan pasar dan menyusun strategi bisnis yang tepat.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pemahaman terhadap perilaku konsumen menjadi faktor penting bagi pelaku industri kreatif untuk menghasilkan produk yang relevan dan mampu bersaing di pasar.
“Pelaku industri kreatif perlu memiliki pondasi pengetahuan dan riset pasar yang kuat untuk dapat memenangkan persaingan bisnis pada masa mendatang. Oleh sebab itu, Kemenperin melalui BPIFK secara rutin menyelenggarakan workshop Creative Talk sebagai upaya penguatan ekosistem industri kreatif dan peningkatan daya saing pelaku usaha,” kata Menperin Agus dalam keterangan tertulis, Jumat, 19 Juni 2026.
Menurut Agus, kreativitas dan inovasi harus berjalan seiring dengan kemampuan memahami kebutuhan konsumen yang terus berubah. Dengan pendekatan tersebut, pelaku usaha dapat menghadirkan produk yang tidak hanya menarik dari sisi desain, tetapi juga sesuai dengan preferensi pasar.
“Sudah saatnya produk kreatif Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kita memiliki banyak perancang dan pelaku industri yang kreatif, inovatif, serta harus adaptif dalam memahami produk yang relevan untuk target pasar yang disasar,”lanjutnya.
Sebagai bagian dari pembinaan industri kreatif, BPIFK menyelenggarakan workshop Creative Talk bertema “Consumer Behavior: Memahami Konsumen untuk Mengembangkan Bisnis Kreatif” pada 11 Juni 2026 di Badung, Bali. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari Universitas Mahasaraswati Denpasar dan diikuti pelaku industri kreatif sektor fesyen dan kriya.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menilai pemahaman terhadap perilaku konsumen merupakan fondasi utama dalam pengembangan produk dan strategi bisnis yang efektif.
“Keberhasilan suatu produk tidak hanya ditentukan oleh kualitas dan kreativitas perancangnya, tetapi juga oleh kemampuan menjawab kebutuhan serta preferensi konsumen. Oleh karena itu, pelaku IKM perlu memahami perubahan perilaku pasar agar dapat menghasilkan produk yang tepat sasaran,”ungkap Reni.
Ia menambahkan, kegiatan Creative Talk diharapkan mampu membantu pelaku IKM lebih memahami kebutuhan pasar sehingga dapat menghasilkan produk yang relevan, bernilai tambah, dan memiliki daya saing yang kuat baik di pasar dalam negeri maupun internasional.
Kemenperin juga menyoroti masih banyaknya pelaku usaha yang menghadapi tantangan dalam pengembangan bisnis akibat kurang memahami kebutuhan pasar dan strategi pemasaran yang tepat. Karena itu, pendampingan yang berkelanjutan dinilai penting untuk mendukung pertumbuhan usaha, meski pelaku usaha telah memiliki produk yang inovatif.
Dalam workshop tersebut, peserta memperoleh materi mengenai identifikasi kebutuhan dan kebiasaan konsumen, faktor yang memengaruhi keputusan pembelian, penyusunan nilai tambah produk, hingga strategi pemasaran yang sesuai dengan target pasar.
Kepala BPIFK Dickie Sulistya Aprilyanto menegaskan pihaknya akan terus menghadirkan program pembinaan yang berfokus pada penguatan kapasitas bisnis dan pemasaran bagi pelaku industri kreatif.
“Memahami perilaku konsumen merupakan langkah awal yang sangat penting dalam membangun strategi bisnis yang tepat. BPIFK berkomitmen menjadi mitra bagi pelaku industri kreatif untuk meningkatkan kapasitasnya, mulai dari pengembangan produk hingga penyusunan strategi pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan pasar,”ujar Dickie.
Melalui berbagai program pembinaan tersebut, Kemenperin berharap industri kreatif nasional semakin adaptif terhadap perkembangan pasar, mampu meningkatkan nilai tambah produk, memperluas akses pasar, serta memperkuat kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.










