TVRINews, Jakarta
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan pengurangan ekspor gas pipa Indonesia ke negara tetangga sebesar 31 juta metrik standar kaki kubik per hari (MMscfd) atau sekitar delapan persen dari total volume ekspor gas pipa.
Kebijakan tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan domestik dan mengantisipasi pemeliharaan fasilitas.
Bahlil mengatakan total ekspor gas pipa Indonesia ke negara sahabat mencapai 409,55 MMscfd. Pasokan tersebut berasal dari dua wilayah, yakni Laut Natuna dan Sumatera.
“Yang kemarin kita potong itu adalah 31 MM, hanya kurang lebih sekitar delapan persen,” ujar Bahlil, Senin, 26 Oktober 2026.
Ia menyebut pengurangan tersebut masih berada dalam batas minimum kontrak yang disepakati. Menurutnya, batas kontrak minimum berada di kisaran 91–92 persen, sehingga pengurangan pasokan sekitar 8 persen belum melanggar komitmen kontraktual.
“31 MM yang kita potong itu adalah masih di batas kontrak minimum. Saya ulangi, 31 yang kita potong sebagian itu masih dalam batas kontrak minimum,” kata Bahlil.
Bahlil menjelaskan pengurangan pasokan gas pipa dilakukan karena dua faktor, yakni adanya pemeliharaan atau penghentian sementara operasional (shutdown) dan meningkatnya kebutuhan gas di dalam negeri. Ia juga menanggapi pemberitaan mengenai dampak pengurangan pasokan terhadap konsumsi negara tujuan.
Berdasarkan informasi yang dibacanya di media, pengurangan sebesar 31 MMscfd disebut setara sekitar 2 persen dari konsumsi negara tersebut. Sementara itu, jika seluruh ekspor gas pipa sebesar 409,55 MMscfd dihentikan, dampaknya diperkirakan jauh lebih besar.
“Kalau 409 MM katakanlah kalau itu tidak jalan, itu berarti berapa persen itu? Saya baca di media itu ada sekitar 1.000 MM kebutuhan mereka, ya, 1.000 lebih. Berarti kurang lebih sekitar 30 persen,” ucap Bahlil.
Selain gas pipa, Bahlil menyebut Indonesia juga mengekspor gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) sebanyak sekitar 146 kargo. Namun, ia belum merinci volume gas yang setara dengan jumlah kargo tersebut.
Meski demikian, Bahlil menegaskan pemerintah Indonesia tetap berkomitmen menghormati kontrak dan aturan dalam kerja sama energi internasional. Namun, ia juga meminta negara mitra menjaga hubungan bilateral dengan prinsip saling menghormati.
“Pemerintah Indonesia sangat menghargai aturan, apalagi Menteri ESDM-nya, sangat menghargai aturan sekali. Tapi saya juga minta, jangan di saat bersamaan kalian minta menghargai, susah minta dihargai, senang mengolok-olok negara lain,” tutur Bahlil.
Ia menekankan hubungan antarnegara perlu dibangun berdasarkan prinsip perlakuan yang setara atau equal treatment. Menurutnya, komitmen terhadap kontrak harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap kepentingan dan hubungan baik antarnegara.
“Indonesia ini terlalu baik. Terlalu baik. Menghargai kontrak, tapi hargai juga dong hubungan sesama antarnegara. Harus sama-sama menghargai,” ujar Bahlil.
Bahlil turut mengingatkan makna lambang ASEAN yang menggambarkan ikatan padi dan kapas sebagai simbol kemakmuran bersama. Ia menilai semangat tersebut perlu tercermin dalam hubungan antarnegara anggota kawasan.
“Lambang ASEAN itu padi dan kapas diikat. Itu artinya apa? Melambangkan kemakmuran bersama, penghargaan bersama, duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Dan saya juga meminta kepada pihak-pihak lain untuk menghargailah. Saling menghargailah,” kata Bahlil.










