TVRINews, Jakarta
Inovasi Riset untuk Akselerasi Hilirisasi Kakao Nasional.
Kementerian Pertanian (Kementan) meluncurkan lima varietas unggul baru kakao sebagai langkah strategis dalam memperkuat hilirisasi dan daya saing komoditas perkebunan di pasar global.
Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi intensif antara Kementan dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mendongkrak produktivitas petani lokal.
Salah satu varietas unggulan yang diperkenalkan adalah BP 1. Varietas ini dirancang dengan keunggulan spesifik, yakni ukuran biji yang lebih besar dan kadar lemak tinggi. Secara produktivitas, BP 1 mampu menghasilkan hingga tiga ton biji kering per hektare setiap tahunnya.
Selain itu, tim peneliti juga mengembangkan RHS 1 dan RHS 2 yang difokuskan sebagai sumber benih untuk mendukung pengembangan kakao hibrida di sektor perkebunan rakyat.
Peneliti senior kakao, Rubiyo, menyatakan bahwa varietas-varietas tersebut bukan sekadar temuan laboratorium, melainkan teknologi terapan yang telah tersebar luas. "Varietas BP 1 telah menjangkau berbagai wilayah di Indonesia.
Sementara itu, RHS 1 dan RHS 2 saat ini telah dikembangkan di tujuh provinsi melalui kemitraan strategis dengan sektor swasta untuk memastikan diseminasi teknologi yang masif bagi petani," ujar Rubiyo, dikutip rabu 10 Juni 2026.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa riset harus memiliki dampak ekonomi langsung bagi masyarakat. Menurutnya, transformasi pertanian berkelanjutan hanya bisa dicapai jika hasil inovasi segera diaplikasikan di lapangan.
"Penelitian harus menghasilkan solusi nyata bagi rakyat. Inovasi tidak boleh berhenti pada dokumen jurnal, tetapi harus menyentuh petani, meningkatkan hasil panen, dan memperkuat ketahanan pangan nasional secara substansial," tegas Mentan Amran.
Rubiyo, yang telah mengabdi selama tiga dekade lebih di sektor penelitian pertanian, menyambut baik perhatian pemerintah terhadap hilirisasi riset. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan pelaku usaha merupakan kunci utama dalam meningkatkan nilai tambah produk kakao domestik.
Kehadiran lima varietas unggul ini diharapkan menjadi fondasi bagi penguatan ekosistem hilirisasi perkebunan di Indonesia. Dengan dukungan benih berkualitas tinggi, pemerintah menargetkan peningkatan kesejahteraan petani sekaligus memperkokoh posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok kakao dunia.










