TVRINews – Jakarta
Nilai Tukar Rupiah Terangkat Pelemahan Dolar AS di Tengah Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi dan Potensi Lonjakan Premi Risiko Domestik
Nilai tukar rupiah membuka perdagangan sesi pagi dengan catatan positif di tengah dinamika pasar keuangan global yang variatif. Pelemahan indeks dolar Amerika Serikat memberikan ruang konsolidasi bagi mayoritas mata uang di kawasan Asia, meskipun potensi tekanan volatilitas domestik tetap diantisipasi oleh para pelaku pasar.
Berdasarkan data perdagangan pasar valuta asing pada Rabu 4 November 2026 pagi, rupiah ditutup menguat sebesar 0,1 persen ke level Rp18.130 per dolar AS pada pembukaan pasar. Tren positif tersebut terus berlanjut hingga pukul 09.05 WIB, dengan rupiah yang kembali terkoreksi naik 0,23 persen menembus posisi Rp18.107 per dolar AS.
Kenaikan nilai tukar domestik selaras dengan pergerakan mayoritas mata uang utama kawasan Asia yang menguat. Penguatan dipimpin oleh yen Jepang sebesar 0,65 persen dan won Korea Selatan sebesar 0,53 persen, disusul kenaikan moderat pada ringgit Malaysia, dolar Singapura, baht Thailand, dolar Hong Kong, serta yuan offshore. Sementara itu, dolar Taiwan dan peso Filipina tercatat mengalami depresiasi.
Pendorong utama penguatan mata uang regional adalah melandainya indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,47 persen ke posisi 101,38. Namun, di saat yang sama, pasar imbal hasil (yield) obligasi global dan regional justru mengalami kenaikan akibat persangkaan pengetatan suku bunga oleh sejumlah bank sentral utama.
Yield obligasi pemerintah di Eropa seperti Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia merambat naik. Kondisi serupa terjadi pada pasar surat utang Asia, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan China.
Dari dalam negeri, fokus perhatian investor tertuju pada rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyampaikan estimasi optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2026 berada pada kisaran 5,4 hingga 5,5 persen secara tahunan (year-on-year).
"Pertumbuhan ekonomi nasional untuk keseluruhan tahun 2026 diproyeksikan mampu mencapai rentang 5,4 persen hingga 5,5 persen secara year-on-year," tulis laporan resmi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam proyeksi berkala stabilitas sistem keuangan nasional.
Selain indikator makroekonomi, para pelaku modal turut mencermati perkembangan lanskap politik dan tata kelola di dalam negeri. Munculnya isu dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto yang mengaitkan mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo dinilai berpotensi meningkatkan profil risiko investasi Indonesia.
Faktor ketidakpastian tersebut memperberat persepsi risiko pasar, melengkapi evaluasi reklasifikasi ekuitas domestik oleh MSCI. Indikator Credit Default Swap (CDS) tenor 5 tahun untuk obligasi pemerintah Indonesia tercatat bertahan di level 104,37 bps pada awal November, melonjak dibandingkan posisi Oktober yang berada di angka 92,64 bps. Peningkatan angka CDS ini menandakan pasar meminta kompensasi premi risiko yang lebih tinggi untuk memegang aset berdenominasi rupiah.
Mempertimbangkan kalkulasi teknikal dan dinamika harian, pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang hari ini diperkirakan bergerak menuju rentang batas pendukung (support) pertama di Rp18.170 per dolar AS, dengan batas pertahanan pelemahan lanjutan (secondary support) di kisaran Rp18.200 per dolar AS.









