TVRINews, Jakarta
Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperkuat digitalisasi produk melalui penggunaan barcode pada setiap kemasan.
Menurut Budi, pencantuman kode batang menjadi salah satu langkah penting agar produk UMKM lebih mudah memenuhi sistem operasional dan persyaratan jaringan ritel modern.
Dorongan tersebut disampaikan Budi saat membuka Kick Off Fasilitasi Sertifikasi Barcode Produk Pangan dalam Kemasan di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2026.
Dalam program tersebut, Kementerian Perdagangan menggandeng GS1 Indonesia untuk membantu pelaku UMKM mendapatkan sertifikasi barcode, termasuk bagi produk pangan kemasan dan beauty care.
“Kami mengapresiasi kerja sama dengan GS1 Indonesia untuk membantu pelaku usaha mendapatkan sertifikasi barcode. Ini menjadi bagian dari upaya mendorong produk UMKM agar semakin siap masuk ke pasar ritel,” ujar Budi, Selasa, 6 Oktober 2026.
Budi menjelaskan, barcode tidak hanya berfungsi sebagai identitas produk. Penggunaan kode tersebut juga dapat mempermudah proses pengelolaan barang, mulai dari pelayanan, penyimpanan hingga distribusi.
Karena itu, ia meminta pelaku UMKM mulai mempersiapkan produknya agar memenuhi kebutuhan industri ritel modern.
Meski penggunaan barcode menjadi salah satu persyaratan, Budi menegaskan hal tersebut bukan satu-satunya penentu sebuah produk dapat masuk ke jaringan ritel modern.
Pelaku usaha tetap harus memastikan kualitas, harga, kemasan, serta daya saing produknya mampu memenuhi ekspektasi konsumen dan standar yang ditetapkan pengelola ritel.
“Barcode memang penting, tetapi bukan berarti setelah memiliki barcode produk otomatis bisa masuk ritel. Kualitas dan daya saing tetap menjadi pertimbangan utama,” kata Budi.
Potensi pasar domestik menjadi alasan pemerintah terus mendorong produk UMKM masuk ke jaringan perdagangan modern. Budi menyebut jumlah gerai minimarket di Indonesia saat ini telah mencapai lebih dari 50.000 lokasi.
Menurutnya, besarnya jaringan tersebut dapat menjadi peluang bagi produk lokal untuk memperluas pasar di dalam negeri.
“Bayangkan kalau jaringan ritel yang jumlahnya sangat besar itu bisa semakin banyak diisi produk lokal. Pasarnya akan semakin luas dan peluang UMKM untuk berkembang juga semakin besar,” tuturnya.
Budi menilai semakin banyak produk dalam negeri yang mengisi pasar domestik, ketergantungan terhadap barang impor juga berpotensi ditekan.
Untuk mempercepat proses digitalisasi tersebut, Kemendag bersama GS1 Indonesia menyediakan fasilitasi sertifikasi barcode tanpa biaya bagi pelaku UMKM.
Kemendag berharap program tidak berhenti pada tahap perdana. Jumlah pelaku usaha yang mendapatkan fasilitas sertifikasi ditargetkan terus bertambah sehingga semakin banyak produk lokal yang memenuhi persyaratan masuk jaringan ritel modern.
“Kami berharap fasilitasi ini bisa diperluas sehingga semakin banyak UMKM yang produknya siap masuk dan bersaing di pasar ritel modern,” pungkas Budi.








