TVRINews, Jakarta
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat agenda keberlanjutan sekaligus ketahanan ekonomi Indonesia.
“Keberlanjutan bukan hanya agenda iklim, tetapi juga agenda ketahanan ekonomi bagi Indonesia,” ujar Anindya dalam pembukaan ISF 2026 di Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2026.
Anindya mengatakan ISF 2026 merupakan penyelenggaraan yang keempat dan digelar melalui kolaborasi dunia usaha dengan pemerintah, termasuk Kementerian Investasi dan Hilirisasi serta Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia.
Menurutnya, lebih dari 7.000 partisipan menghadiri forum yang menjadi wadah untuk mempertemukan gagasan, kemampuan, dan peluang konkret dalam mendukung agenda keberlanjutan.
“Kami percaya gagasan yang kredibel, kemampuan yang lebih kuat, dan peluang konkret harus dipertemukan dalam forum seperti ini,” jelasnya.
Anindya menilai agenda keberlanjutan semakin penting di tengah dinamika geopolitik global yang kembali menempatkan ketahanan energi sebagai salah satu perhatian utama dunia.
Ia menyebut konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi minyak domestik berada di kisaran 600 ribu barel per hari.
Kondisi tersebut, menurut Anindya, menunjukkan pentingnya memperkuat ketahanan energi agar Indonesia lebih mampu menghadapi perubahan harga dan dinamika pasar energi global.
“Ketergantungan inilah yang membuat kita terpapar ketika harga global bergerak,” ucapnya.
Untuk memperkuat ketahanan energi, Indonesia dinilai memiliki peluang melalui percepatan elektrifikasi, peningkatan pemanfaatan energi terbarukan, serta pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar impor.
“Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat ketahanan energinya dengan mempercepat elektrifikasi, meningkatkan energi terbarukan, dan mengurangi paparan terhadap bahan bakar impor,” imbuhnya.
Anindya mengatakan penguatan kemandirian energi juga sejalan dengan arah pemerintah dalam menghadapi ketidakpastian global.
Kadin, lanjutnya, memandang kerja sama pemerintah dan dunia usaha melalui semangat Indonesia Incorporateddiperlukan untuk menghubungkan prioritas nasional dengan kemampuan pelaku usaha dan kemitraan internasional.
Dalam mendukung aksi iklim dan pertumbuhan berkelanjutan, Anindya menyebut Kadin memiliki lima prioritas utama.
“Pertama, kita perlu terus mempercepat transisi energi untuk ketahanan energi,” lanjutnya.
Empat prioritas lainnya mencakup pengembangan pasar karbon berintegritas tinggi, dukungan bagi perusahaan Indonesia dalam mencapai emisi nol bersih, pengembangan ekonomi sirkular dan energi dari sampah, serta kehutanan berkelanjutan.
Anindya menambahkan Kadin terus memperluas keterlibatan dunia usaha dalam agenda tersebut. Keanggotaan program Kadin Net Zero, misalnya, meningkat dari 70 menjadi 100 anggota pada 2026.
ISF 2026 berlangsung pada 6-7 Oktober dengan mengangkat tema Investing for a Resilient, Sustainable, and Prosperous World.
Hari pertama forum mengusung fokus “Powering Low-Carbon Growth”, sedangkan hari kedua mengangkat tema “Enabling a Resilient & Liveable Future”.
Forum tersebut menghadirkan lebih dari 200 pembicara dalam lebih dari 20 sesi yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, investor, lembaga keuangan, akademisi, dan organisasi internasional.
Anindya mengatakan ISF 2025 sebelumnya menghasilkan komitmen investasi sekitar 17,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp311,76 triliun.
Ia berharap ISF 2026 kembali mempertemukan kolaborasi dan peluang konkret sehingga agenda keberlanjutan dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata.










