TVRINews – Jakarta
Pemerintah Republik Indonesia sukses meraup dana segar dari pasar keuangan Tiongkok melalui penerbitan obligasi global berdenominasi yuan, memperluas diversifikasi instrumen pembiayaan negara di tengah tingginya minat investor global.
Strategi pembiayaan fiskal Indonesia kembali mencatatkan tonggak sejarah baru di pasar internasional. Pemerintah secara resmi merampungkan penerbitan perdana surat utang global berdenominasi mata uang yuan Tiongkok, atau yang dikenal luas sebagai Panda Bond, dengan perolehan total mencapai CNY 7 miliar.
Berdasarkan kalkulasi nilai tukar yang berlaku, instrumen surat utang tersebut setara dengan kisaran Rp18,58 triliun atau mencakup nominal mendekati US$1 miliar. Strategis ini dieksekusi guna memperkuat struktur portofolio utang negara sekaligus memperluas basis investor di kawasan Asia, khususnya Tiongkok.
Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan merinci bahwa instrumen surat berharga ini diterbitkan dalam dua struktur jangka waktu yang berbeda.
Pemerintah melepas tenor tiga tahun dengan nilai pokok sebesar CNY 5,6 miliar atau setara Rp14,86 triliun, serta tenor lima tahun senilai CNY 1,4 miliar atau berkisar Rp3,59 triliun.
Animo pelaku pasar finansial terhadap instrumen fiskal perdana ini tergolong sangat masif. Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, memaparkan bahwa penawaran obligasi tersebut mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribed hingga mencapai 2,4 kali lipat dari target awal penerbitan.
"Pencapaian oversubscribed tercatat sebesar 2,4 kali. Total volume yang berhasil dicetak atau printed sebesar CNY 7 miliar, sementara akumulasi order book yang masuk menyentuh angka CNY 17 miliar," ujar Suminto pada lama resminya yang dikutip Jumat 24 Juli 2026.
Secara keseluruhan, total peminat yang mendaftarkan penawaran mencatatkan angka CNY 17 miliar atau setara dengan Rp45,23 triliun. Rincian penetrasi pasar menunjukkan bahwa tenor tiga tahun menyerap permintaan hingga CNY 12,38 miliar menghasilkan rasio penutupan atau bid-to-cover ratio sebesar 2,2 kali.
Sementara itu, instrumen berjangka waktu lima tahun mencatatkan total pemesanan sebesar CNY 4,62 miliar dengan bid-to-cover ratio yang lebih tinggi, yakni berada di level 3,3 kali.
Dari hasil bookbuilding tersebut, Kementerian Keuangan menetapkan kupon atau tingkat imbal hasil (yield) yang kompetitif bagi para pemegang obligasi. Instrumen bertenor tiga tahun dipatok pada tingkat yield 1,90%, sedangkan tenor lima tahun menawarkan imbal hasil sebesar 2,19%.
Selanjutnya, tahapan penyelesaian transaksi atau proses setelmen penerbitan Panda Bond perdana ini dijadwalkan akan rampung secara resmi pada 30 Juli 2026 mendatang. Keberhasilan penetrasi pasar ini dinilai mampu memberikan fleksibilitas tambahan bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam mengoptimalkan pembiayaan secara efisien dan berkelanjutan.









