TVRINews – Jakarta
Nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis ke level Rp17.840 per dolar AS pada perdagangan Rabu pagi, seiring sikap hati-hati pasar menanti rilis data inflasi Amerika Serikat dan bayang-bayang pelemahan konsumsi domestik.
Mata uang Garuda kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan hari ini. Pergerakan tersebut memperpanjang tren koreksi setelah pada sesi sebelumnya mencatatkan pelemahan yang sekaligus mengakhiri fase penguatan beruntun dalam empat hari terakhir.
Berdasarkan data pasar spot Rabu 12 Agustus 2026 pagi ini, rupiah terkoreksi tipis 0,06 persen ke level Rp17.840 per dolar Amerika Serikat. Tekanan ini terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, yang terpantau merangkak naik ke level 99,851.
Pelaku pasar global kini mengarahkan fokus sepenuhnya pada rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat periode Juli. Angka tersebut diproyeksikan menjadi kompas utama bagi para pelaku pasar dalam membaca arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve atau The Fed, pada pertemuan mendatang.
Sentimen pasar saat ini masih diselimuti keraguan. Laporan sektor ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis pekan lalu menunjukkan hasil yang lebih moderat dari proyeksi, membuka spekulasi bahwa The Fed mungkin akan mempertahankan suku bunganya. Kendati demikian, kekhawatiran terhadap risiko inflasi yang masih persisten membuat ruang pelonggaran kebijakan tetap terbatas.
Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee, dalam pandangannya baru-baru ini menyatakan bahwa bank sentral masih menaruh perhatian besar pada risiko inflasi yang tinggi dibandingkan perlambatan di pasar tenaga kerja. Pernyataan tersebut menegaskan sikap kehati-hatian otoritas moneter sebelum mengambil langkah lanjutan.
Berdasarkan perangkat FedWatch, probabilitas pasar saat ini terbagi hampir merata. Sebanyak 52 persen pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan September, sementara 48 persen lainnya mengantisipasi adanya kenaikan lanjutan sebesar 25 basis poin.
Di sisi lain, penguatan dolar Amerika Serikat turut mendapat dukungan dari faktor geopolitik dan energi. Lonjakan harga minyak mentah dunia menyusul eskalasi gangguan pada jalur logistis penting di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran kenaikan biaya energi global, yang pada akhirnya memperkuat posisi tawar mata uang Paman Sam.
Dari dalam negeri, ruang pemulihan rupiah turut dibayangi oleh kelesuan data sektor ritel. Laporan Bank Indonesia mencatat bahwa penjualan eceran nasional pada Juni lalu masih mengalami kontraksi sebesar 3 persen secara tahunan. Capaian ini menandai tren penurunan dalam tiga bulan berturut-turut sekaligus mengindikasikan bahwa pemulihan daya beli masyarakat masih berjalan lambat.
Kendati demikian, secercah harapan terlihat dari kinerja bulanan. Indeks Penjualan Riil tercatat tumbuh 0,7 persen ditopang oleh peningkatan permintaan musiman saat perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional serta libur panjang sekolah, kendati momentum tersebut belum cukup kuat untuk membalikkan tekanan eksternal yang mendera pasar keuangan domestik.










