TVRINews – Jakarta
Cadangan pangan nasional sentuh angka tertinggi dalam sejarah.
Indonesia resmi membukukan volume Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tertinggi dalam sejarah nasional, mencapai 5,2 juta ton. Angka ini menjadi instrumen krusial bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan di tengah ancaman fenomena iklim El Nino yang berpotensi memengaruhi produktivitas sektor pertanian.
Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Sarwo Edhy, menegaskan bahwa akumulasi cadangan tersebut berfungsi sebagai bantalan strategis yang memberikan fleksibilitas bagi negara untuk melakukan intervensi pasar, guna menekan potensi volatilitas harga yang kerap muncul akibat gangguan pada rantai pasok maupun penurunan produksi musiman.
"Cadangan ini bukan sekedar angka, tetapi merupakan bantalan strategis yang memberi ruang bagi pemerintah untuk menjaga pasokan sekaligus meredam gejolak harga ketika terjadi gangguan produksi maupun distribusi akibat musim kemarau," ujar Sarwo Edhy dalam keterangan resminya yang dikutip Selasa 7 Juli 2026.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah telah mengimplementasikan serangkaian intervensi di seluruh wilayah. Hingga awal Juni 2026, tercatat lebih dari 5.573 unit Gerakan Pangan Murah (GPM) telah dilaksanakan di 37 provinsi.
Selain itu, pendistribusian beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) terus diakselerasi dengan realisasi mencapai 463.000 ton untuk memastikan keterjangkauan harga di tingkat konsumen akhir.
Pencapaian stok pangan nasional ini berakar pada peningkatan produktivitas di sektor hulu. Melalui optimalisasi lahan, perbaikan sistem irigasi, serta program pompanisasi yang masif, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya lonjakan produksi beras sebesar 13,29 persen pada 2025 dibandingkan periode sebelumnya.
Keberhasilan ini mendapatkan pengakuan global. Berdasarkan laporan FAO Food Outlook edisi Juni 2026, Indonesia kini menempati posisi produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan peringkat keempat di dunia.
"FAO Food Outlook edisi Juni 2026 menuliskan bahwa Indonesia dinobatkan sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan peringkat keempat di dunia. Ini menunjukkan bahwa penguatan ketahanan pangan Indonesia diakui oleh lembaga pangan internasional," tambah Sarwo Edhy.
Pemerintah menyatakan akan terus melakukan pengawasan ketat dan koordinasi lintas sektor untuk memastikan ketersediaan komoditas pokok tetap terjaga meski tantangan iklim global masih membayangi.
Stimulus ekonomi berupa bantuan pangan yang telah menjangkau 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) direncanakan berlanjut hingga triwulan ketiga tahun ini sebagai bentuk komitmen perlindungan daya beli masyarakat.










