TVRINews, Jakarta
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya menegaskan budaya lokal dapat menjadi fondasi kuat dalam membangun ekonomi kreatif nasional. Hal itu disampaikan saat menghadiri gala premiere film Foufo di Jakarta, Jumat, 3 Juli 2026.
Riefky mengapresiasi SKAK Studios dan SinemArt yang menghadirkan film bertema kearifan lokal Madura. Menurutnya, karya tersebut membuktikan bahwa cerita dari daerah tidak hanya menarik untuk ditonton, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang besar.
"Kami mengapresiasi upaya Mas Bayu bersama SKAK Studios dan SinemArt yang menghadirkan film dengan mengangkat kearifan lokal Madura. Ini membuktikan bahwa cerita dari daerah mampu menjadi tontonan yang menarik sekaligus memiliki potensi ekonomi," ujar Riefky dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 4 Juli 2026.
Kemudian ia menjelaskan, Kementerian Ekonomi Kreatif telah mendukung pengembangan Foufo sejak tahap awal produksi melalui penguatan intellectual property (IP), fasilitasi kolaborasi lintas sektor, hingga perluasan promosi film.
Menurut Riefky, Foufo menjadi contoh nyata bahwa budaya tidak hanya dapat dilestarikan, tetapi juga dihilirisasi menjadi produk ekonomi kreatif yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
"Budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dapat dihilirisasi melalui kreativitas, inovasi, dan teknologi sehingga memberikan manfaat ekonomi. Kami berharap semakin banyak sineas di berbagai daerah yang berani mengangkat kearifan lokal melalui karya-karya kreatif," ucapnya.
Film Foufo juga dinilai memperkuat ekosistem ekonomi kreatif karena melibatkan sekitar 90 persen talenta lokal, sebagian besar merupakan pendatang baru, serta menggandeng 120 animator dari Hompimpa Animworks Surabaya dalam pengembangan karakter.
Sementara itu, Sutradara sekaligus Founder SKAK Studios, Bayu Skak, mengapresiasi dukungan Kementerian Ekraf yang dinilai membuka jejaring kolaborasi sekaligus mempermudah proses produksi di daerah.
Film Foufo tidak hanya dikembangkan sebagai karya layar lebar, tetapi juga sebagai IP yang akan diperluas melalui pengembangan merchandise dan berbagai aktivasi kreatif. Film yang didominasi dialog berbahasa Madura tersebut dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 9 Juli 2026.










