TVRINews – Jakarta
Awal perdagangan Jumat, indeks saham merosot tipis di tengah bayang-bayang sentimen global.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali sesi perdagangan akhir pekan dengan tren koreksi. Pasar keuangan domestik saat ini dihadapkan pada gelombang sentimen eksternal yang padat, mulai dari dinamika Wall Street, penguatan data ekonomi Amerika Serikat, hingga lonjakan inflasi PCE.
Pada pembukaan perdagangan Jumat 30 Oktober, IHSG tercatat melemah 31,12 poin atau terkoreksi 0,61 persen ke level 5.066,94. Aktivitas transaksi di awal sesi mencatatkan volume sebesar 14,17 juta lot dengan nilai perputaran modal mencapai Rp374,05 miliar.
Tekanan makroekonomi global tersebut turut memicu ketidakpastian di pasar keuangan dalam negeri, termasuk pergerakan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, pasar obligasi domestik menunjukkan dinamika tersendiri di tengah penyesuaian imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang melandai ke level 7,643 persen pada perdagangan sebelumnya, dari posisi 7,706 persen. Meskipun mengalami penurunan, tingkat imbal hasil tersebut masih berada di kisaran tertinggi dalam enam tahun terakhir.
Respons Kebijakan Moneter dan Arah Suku Bunga
Menanggapi berbagai tekanan eksternal, Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa arah kebijakan suku bunga acuan atau BI Rate pada November 2026 tidak akan otomatis mengikuti langkah bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed). Kebijakan moneter domestik akan tetap berfokus pada asesmen mendalam terhadap indikator fundamental ekonomi nasional dan global.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan bahwa otoritas moneter memiliki instrumen yang memadai untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan nilai tukar rupiah, yang sebelumnya sempat tertekan hingga kisaran Rp18.100 per dolar Amerika Serikat.
"Desain suku bunga acuan BI Rate akan terus konsisten sesuai dengan perkembangan data-data perekonomian tanah air dan perkembangan global," ujar Destry Damayanti.
Sementara itu, dinamika juga terjadi di pasar modal melalui langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) yang resmi mengeluarkan lima emiten dari daftar transaksi short selling untuk periode November 2026. Kelima saham tersebut meliputi PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Astra International Tbk. (ASII), PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), serta PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF).
Sentimen Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Global
Dari kancah internasional, rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat untuk periode September 2026 menunjukkan kenaikan 0,5 persen secara bulanan. Angka ini mencatatkan re tertinggi dalam enam bulan terakhir dan sejalan dengan ekspektasi pasar.
Lonjakan tersebut terutama didorong oleh kenaikan harga komponen barang tidak tahan lama, khususnya energi dan bensin. Indikator PCE ini tetap menjadi acuan utama The Fed dalam memproyeksikan arah kebijakan suku bunga ke depan.
Di kawasan Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan Oktober 2026. Suku bunga pembiayaan utama tetap berada di level 2,65 persen dan fasilitas simpanan pada 2,50 persen, sejalan dengan proyeksi konsensus.
Di sisi lain, perekonomian Amerika Serikat pada kuartal III-2026 justru mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 3,4 persen. Angka ini melampaui ekspektasi pasar yang berada di kisaran 3,2 persen, didorong oleh ekspansi investasi domestik swasta yang tertopang kuat oleh sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Pelaku pasar hari này juga mencermati hasil keputusan suku bunga dari Bank Sentral Jepang (BOJ) serta rilis data produk domestik bruto (PDB) dan tingkat pengangguran zona euro. Berbagai rilis data tersebut di proyeksikan menjadi penentu arah likuiditas global serta sentimen lanjutan bagi pasar keuangan domestik pada sesi perdagangan berikutnya.










