TVRINews, Jakarta
Laporan terbaru PIHPS Bank Indonesia merekam lonjakan signifikan sektor peternakan dan hortikultura secara nasional.
Lonjakan harga sejumlah bahan pangan pokok dilaporkan meluas di pasar domestik Indonesia pada paruh kedua Mei 2026. Kenaikan drastis ini dipimpin oleh komoditas hortikultura seperti bawang merah dan cabai, serta diikuti oleh pergeseran harga pada sektor daging dan beras di seluruh tingkatan kualitas.
Berdasarkan data agregat Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dirilis resmi oleh Bank Indonesia pada Jumat 22 Mei 2026, harga rata-rata bawang merah ukuran sedang mengalami akselerasi sebesar 54,91 persen atau naik Rp25.700, sehingga menembus level Rp72.500 per kilogram.
Kondisi serupa terjadi pada bawang putih ukuran sedang yang terkerek 42,77 persen ke angka Rp56.250 per kilogram.
Tekanan inflasi pada sektor pangan ini memicu perhatian serius dari kalangan analis komoditas. Dinamika pasokan dan distribusi dinilai menjadi faktor utama di balik fluktuasi harga yang melampaui ambang batas normal musiman tersebut.
"Akselerasi harga pada beberapa komoditas inti mencerminkan adanya ketidakseimbangan jangka pendek antara ketersediaan pasokan di tingkat produsen dan kuatnya permintaan domestik. Kebijakan intervensi distribusi di tingkat regional menjadi krusial untuk meredam fluktuasi ini," sebut laporan kajian pasar komoditas pangan regional dalam ulasan ekonominya, Jumat 22 Mei.
Di sektor peternakan, harga daging sapi mencatatkan lompatan yang seragam. Baik kualitas 1 maupun kualitas 2 saat ini bertengger di harga Rp200.000 per kilogram. Daging sapi kualitas 1 mengalami kenaikan sebesar Rp56.400 (39,28 persen), sementara kualitas 2 melonjak hingga Rp63.350 (46,36 persen) dari basis penghitungan sebelumnya.

(Ilustrasi Grafis: TVRINews.com [Sumber data: Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional])
Sementara itu, daging ayam ras segar merangkak naik ke posisi Rp50.000 per kilogram, merekam pertumbuhan harga sebesar Rp10.400 atau sekitar 26,26 persen. Komoditas beras, yang menjadi indikator utama biaya hidup masyarakat juga memperlihatkan tren penguatan di seluruh lini.
Beras kualitas super I kini diperdagangkan rata-rata pada Rp19.750 per kilogram, mengalami kenaikan sebesar 17,21 persen. Sedangkan varian medium I berada pada angka Rp18.500 per kilogram. Secara keseluruhan, seluruh kategori beras mengalami kenaikan berkisar antara 12 hingga 17 persen.
Meski sebagian besar komoditas pangan mengalami tekanan ke atas, BI PIHPS juga mencatat adanya koreksi penurunan pada kelompok cabai rawit.
Cabai rawit hijau mengalami deflasi tajam sebesar 42,21 persen (turun Rp21.000) menjadi Rp28.750 per kilogram. Langkah penurunan ini juga diikuti oleh cabai merah keriting yang turun ke level Rp43.750 per kilogram.
Stabilitas harga gula pasir premium dan minyak goreng kemasan bermerek juga masih berada dalam kurva penguatan logistik, di mana minyak goreng curah merangkak tipis 4,12 persen ke harga Rp21.500 per kilogram.
Bank Indonesia melalui instrumen pemantauan harga secara berkala terus menyuplai data ini sebagai basis pengambilan kebijakan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) guna memastikan stabilitas daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah fluktuasi pasar internal.










