TVRINews – Jakarta
Badan Pusat Statistik mencatat penurunan jumlah wilayah dengan kenaikan harga, namun lonjakan biaya pada minyak goreng dan gula tetap menjadi perhatian utama.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tren pelandaian Indeks Perkembangan Harga (IPH) nasional pada pekan keempat April 2026.
Meskipun secara umum menunjukkan perbaikan, otoritas statistik memperingatkan adanya tekanan inflasi yang masih persisten di wilayah timur Indonesia serta komoditas tertentu yang mengalami anomali harga.
Dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi yang dipimpin Kementerian Dalam Negeri, Senin 27 April 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan penurunan signifikan pada jumlah daerah yang mencatatkan kenaikan IPH.
Data terbaru menunjukkan hanya 126 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga, menyusut dari 137 wilayah pada pekan sebelumnya.
"Alhamdulillah, sampai dengan minggu keempat April 2026, terjadi penurunan sebaran wilayah yang mengalami peningkatan IPH dibandingkan pekan ketiga," ujar Ateng di Jakarta.
Disparitas Wilayah dan Tekanan di Timur
Kendati tren nasional membaik, BPS memberikan catatan khusus terhadap sejumlah daerah di kawasan timur Indonesia yang masih mencatatkan lonjakan harga di atas rata-rata nasional.
Kabupaten Tolikara di Papua Pegunungan dan Halmahera Utara di Maluku Utara menjadi sorotan setelah mencatatkan kenaikan IPH di atas 4 persen.
Menurut laporan Data BPS, Kabupaten Tolikara mengalami lonjakan harga sebesar 4,79 persen, yang dipicu oleh keterbatasan pasokan dan tingginya harga beras, cabai rawit, serta daging ayam ras.
Sementara itu, di Halmahera Utara, IPH terdongkrak 4,11 persen dengan komoditas cabai rawit dan cabai merah sebagai penyumbang utama.
Risiko Inflasi Minyak Goreng dan Gula
Dalam ulasan mendalamnya, Ateng menegaskan bahwa stabilitas pangan nasional saat ini menghadapi tantangan dari tiga komoditas kunci: minyak goreng, gula pasir, dan beras.
Data statistik menunjukkan persebaran kenaikan harga minyak goreng meluas secara mengkhawatirkan.
"Kita perlu memberikan perhatian khusus pada minyak goreng. Jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga komoditas ini meningkat dari 207 menjadi 224 wilayah pada pekan terakhir April," jelas Ateng.
Kondisi serupa terjadi pada gula pasir. BPS mencatat kenaikan harga gula terjadi di 185 kabupaten/kota atau mencakup sekitar 51 persen wilayah Indonesia.
Secara rata-rata, harga gula pasir mengalami eskalasi sebesar 1,5 persen pada akhir bulan ini, sebuah angka yang dinilai cukup signifikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Fluktuasi Harga Beras
Beras, sebagai komoditas pokok utama, juga menunjukkan volatilitas yang tinggi di daerah terpencil. Meskipun secara nasional terdapat upaya stabilisasi,
BPS mencatat kenaikan harga beras yang cukup tajam di Kabupaten Intan Jaya dengan lonjakan IPH mencapai 9,33 persen, diikuti oleh Kabupaten Natuna sebesar 8,81 persen.
Secara kumulatif, jumlah daerah yang mengalami kenaikan harga beras meningkat menjadi 109 kabupaten/kota, bertambah dari 97 wilayah pada pekan sebelumnya.










