TVRINews, Batam
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin mendorong Batam Tourism Polytechnic (BTP) menjadi pusat pengembangan pekerja migran profesional di sektor hospitality. Hal itu disampaikannya saat meresmikan Migrant Center sekaligus menyaksikan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) di kampus BTP, Batam, Senin, 8 Juni 2026.
Mukhtarudin mengapresiasi langkah cepat BTP yang langsung merealisasikan kerja sama dengan menghadirkan Migrant Center sebagai pusat layanan dan pengembangan calon pekerja migran.
"Perkembangan ini cepat. Begitu kita MoU dan PKS, langsung meresmikan Migrant Center-nya. Tentu kita akan bangun ekosistem hulu pekerja migran yang skilled workers. Dan di sinilah fokusnya di bidang hospitality," ujar Mukhtarudin dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com, Selasa, 9 Juni 2026.
Menurutnya, kerja sama tersebut menjadi contoh sinergi yang ideal antara pemerintah sebagai regulator dengan perguruan tinggi sebagai operator dalam menyiapkan sumber daya manusia yang siap bekerja di pasar internasional.
Kemudian ia menjelaskan, pemerintah saat ini terus memperluas kolaborasi dengan berbagai kementerian dan perguruan tinggi guna memperkuat penyiapan tenaga kerja profesional di berbagai sektor, mulai dari pariwisata, kesehatan, perhubungan, pertambangan hingga perikanan.
"Pemerintah menciptakan iklim yang memfasilitasi sektor riil. Penempatan dilakukan melalui skema resmi yang disiapkan pemerintah, baik itu Government to Government (G-to-G) maupun skema prosedural lainnya," jelasnya.
Lebih lanjut, Mukhtarudin juga menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk memasok tenaga kerja profesional ke berbagai negara yang tengah menghadapi fenomena penuaan populasi atau aging population, seperti Jepang dan sejumlah negara Eropa.
Di sisi lain, Indonesia saat ini sedang menikmati bonus demografi yang harus dimanfaatkan melalui peningkatan kualitas dan kompetensi tenaga kerja.
Menurutnya, posisi Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura menjadi nilai strategis dalam pengembangan SDM berorientasi global. Keberadaan BTP diharapkan tidak hanya menghasilkan tenaga kerja profesional, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat.
"Dampaknya bukan saja hilirisasi SDM, tapi konteksnya menggerakkan ekonomi dan daya beli masyarakat. Oleh karena itu, ekosistemnya bagus, mengurangi angka pengangguran, meningkatkan kesejahteraan, dan memberikan multiplier effect terhadap pertumbuhan ekonomi," ucapnya.
Mukhtarudin menambahkan, pekerja migran Indonesia saat ini memiliki peran penting sebagai penggerak ekonomi nasional melalui kontribusi remitansi yang terus meningkat.
Melihat kualitas mahasiswa BTP yang telah menjalani program magang internasional di berbagai negara Asia dan Australia, Mukhtarudin mendorong kampus tersebut untuk segera membentuk Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI).
Menurutnya, keberadaan P3MI akan menjadikan BTP sebagai pusat layanan terpadu atau one stop service bagi mahasiswa yang ingin meniti karier di dalam maupun luar negeri.
"Saya sarankan segera bentuk dan siapkan P3MI-nya. Sehingga terjadi one stop service di BTP. Jadi orang berpikir kuliah di BTP saja, karena jalurnya untuk bisa bekerja di luar negeri secara prosedural sudah disiapkan. Dalam negeri disiapkan, luar negeri disiapkan," imbuhnya.
Melalui kolaborasi ini, pemerintah berharap semakin banyak lulusan vokasi yang dapat mengisi kebutuhan tenaga kerja profesional dunia sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa di tingkat global.










