
David Sutyanto Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI)
Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews – Jakarta
Analis: Tekanan Global Bersifat Jangka Pendek, Indikator Ekonomi Domestik Indonesia Masih Stabil
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai menunjukkan tanda-tanda konsolidasi setelah sempat menyentuh level psikologis Rp17.000 pada perdagangan Senin 9 Maret 2026 Meski dibayangi gejolak pasar global, fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap kokoh untuk menopang pemulihan mata uang garuda dalam jangka menengah.
Pelemahan yang terjadi saat ini dipandang sebagai dampak berantai dari faktor eksternal, bukan refleksi dari keretakan ekonomi domestik. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak mentah dunia di atas USD 100 per barel telah memicu penguatan dolar AS secara luas (safe-haven flow).
Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutyanto, menjelaskan bahwa situasi ini memaksa investor global untuk mengurangi eksposur di pasar negara berkembang (emerging markets).
"Pergerakan rupiah saat ini lebih didominasi oleh sentimen global dibandingkan perubahan kondisi internal kita," ujar David di Jakarta.
Ia menganalogikan ekonomi Indonesia sebagai sebuah bangunan dengan struktur yang masih sangat solid, meskipun harga pasarnya sedang fluktuatif akibat badai lingkungan di sekitarnya.
Ketahanan Makroekonomi
Sejumlah indikator kunci menunjukkan bahwa ekonomi nasional masih berada di jalur yang tepat:
• Pertumbuhan Ekonomi: Realisasi tahun 2025 tercatat mencapai 5,11%.
• Inflasi: Terjaga stabil di kisaran sasaran 2,5% untuk periode 2026–2027.
• Sektor Keuangan: Penyaluran kredit perbankan per Januari 2026 tumbuh sehat sebesar 9,96% (yoy).
Menurut David, data-data tersebut membuktikan bahwa pelemahan nilai tukar saat ini belum sepenuhnya mencerminkan realitas ekonomi Indonesia yang sebenarnya.
Kebijakan Devisa sebagai Penopang
Langkah pemerintah dalam memperketat aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) juga dipandang sebagai strategi krusial untuk menjaga likuiditas dolar di dalam negeri. Dengan mewajibkan eksportir menyimpan devisa lebih lama di sistem perbankan domestik, diharapkan ada bantalan yang cukup kuat saat terjadi guncangan pasar.
"Kebijakan DHE ini berfungsi seperti bendungan valuta asing, memastikan aliran dolar tetap berada di dalam negeri untuk menjaga kedalaman pasar valas kita," tambah David.
Meskipun volatilitas masih tinggi, stabilitas rupiah ke depan akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan fiskal dan moneter. Koordinasi antara bank sentral dan pemerintah dalam menjaga kepercayaan pasar menjadi kunci utama agar rupiah tidak terus tertekan oleh sentimen negatif luar negeri.
Menutup keterangannya, David menekankan bahwa di tengah kondisi pasar yang sangat dinamis, kredibilitas kebijakan adalah komoditas yang paling berharga untuk mempertahankan minat investor asing terhadap aset-aset di Indonesia.
Editor: Redaktur TVRINews
