
Foto: Tangkapan layar Youtube BPS
Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
BPS Melaporkan Penurunan Laju Inflasi Bulanan Dibandingkan Februari
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru mengenai indeks harga konsumen yang menunjukkan adanya tren perlambatan tekanan inflasi pada pengujung kuartal pertama tahun ini.
Berdasarkan laporan resmi, Indonesia mencatatkan inflasi sebesar 0,41% secara bulanan (month-to-month) pada Maret 2026.
Meskipun masih berada dalam zona ekspansi harga, angka ini menunjukkan dekselerasi dibandingkan capaian Februari 2026 yang sempat menyentuh level 0,68%. Secara akumulatif, inflasi tahun kalender hingga Maret 2026 kini berada pada posisi 0,94%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa pergerakan harga pada bulan Maret tetap terjaga di tengah dinamika pasar domestik.
"Pada Maret 2026 terjadi inflasi sebesar 0,41%," ujar Ateng dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu 1 April 2026.
Analisis Fundamental dan Ekspektasi Pasar
Realisasi yang diumumkan otoritas statistik ini relatif selaras dengan proyeksi para analis. Sebelumnya, konsensus pasar yang dihimpun dari belasan institusi keuangan memperkirakan kenaikan harga di kisaran 0,60% secara bulanan. Dengan hasil riil sebesar 0,41%, tekanan inflasi terbukti lebih moderat dari estimasi moderat pelaku pasar.
Jika ditinjau lebih dalam, terdapat beberapa catatan krusial dalam struktur inflasi periode ini:
• Inflasi Inti: Tetap stabil dan diprediksi berada di level 2,65% secara tahunan (year-on-year), mencerminkan daya beli masyarakat yang masih terjaga tanpa adanya gejolak harga yang ekstrem pada sektor barang-barang non-volatil.
• Perbandingan Tahunan: Sebagai pembanding, pada Februari 2026, inflasi tahunan sempat bertengger di angka 4,76% dengan inflasi inti sebesar 2,63%.
Penurunan laju inflasi ini memberikan sinyal positif bagi stabilitas moneter nasional. Para pengamat ekonomi menilai bahwa kebijakan intervensi pasar dan distribusi logistik yang efektif menjadi faktor kunci di balik melandainya angka IHK dibandingkan bulan sebelumnya.
Data ini diharapkan menjadi fundamental kuat bagi pemerintah dan Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan ekonomi pada kuartal berikutnya.
Editor: Redaktur TVRINews
