
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Bekraf, Teuku Riefky Harsya saat menerima audiensi PT Java Festival Production (Foto: Kemenekraf)
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) menyatakan kesiapan mendukung kolaborasi penyelenggaraan Jakarta International Java Jazz Festival 2026.
Hal itu disampaikan Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Bekraf Teuku Riefky Harsya saat menerima audiensi PT Java Festival Production di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta.
Teuku Riefky menilai festival musik berskala internasional tersebut sebagai contoh intellectual property (IP) berbasis event yang mampu bertahan dan berkembang mengikuti perubahan zaman.
Menurutnya, Java Jazz tidak hanya berfungsi sebagai ajang pertunjukan musik, tetapi juga memiliki dampak signifikan bagi penguatan industri kreatif nasional.
“Java Jazz Festival membuktikan bahwa IP berbasis event di Indonesia dapat terus relevan dan adaptif. Kami siap mendukung kolaborasi agar festival ini memberikan dampak yang lebih luas bagi industri kreatif,” ujar Teuku Riefky, dilansir dari laman resmi Kemenekraf, Rabu, 4 Februari 2026.
Tahun 2026 akan menandai penyelenggaraan ke-21 Java Jazz Festival sejak pertama kali digelar pada 2005. Panitia merencanakan Java Jazz Festival 2026 berlangsung pada 29–31 Mei 2026 di Nusantara International Convention and Exhibition (NICE) PIK 2, Jakarta.
Selama lebih dari dua dekade, Java Jazz dinilai konsisten membangun ekosistem musik yang tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga berperan dalam diplomasi budaya.
Sejumlah festival turunan seperti Java Soulnation, Java Rockin’land, Soundsfair, dan Hodgepodge Festival turut memperkuat portofolio industri pertunjukan musik nasional.
Sementara itu, President Director Java Jazz Festival, Dewi Gontha menjelaskan bahwa pemilihan lokasi baru di PIK 2 didasarkan pada pertimbangan aksesibilitas, terutama bagi musisi dan pengunjung internasional. Lokasi tersebut dinilai lebih dekat dengan bandara serta didukung fasilitas akomodasi yang memadai.
“Selama penyelenggaraannya, Java Jazz telah menghadirkan sekitar 4.000 musisi internasional. Pemindahan lokasi ke NICE memudahkan mobilitas musisi mancanegara. Tema ‘Beyond The Horizon Where Dreams Take The Stage’ mencerminkan upaya kami untuk memperluas skala acara dan mengusung konsep archipelago dengan melibatkan musik dari berbagai daerah,” ujar Dewi.
Dalam kesempatan itu, pihak penyelenggara juga berharap adanya kolaborasi dengan Kemenekraf untuk mendukung penyelenggaraan Java Jazz Festival 2026.
Berdasarkan data panitia, mayoritas pengunjung Java Jazz berasal dari kawasan Asia Tenggara dengan kontribusi sekitar 52 persen, disusul pengunjung dari Amerika, Eropa, dan Afrika.
Audiensi tersebut turut dihadiri Direktur Keuangan PT Java Festival Production Dwi Cahyono. Sementara Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya didampingi Direktur Musik Kemenekraf Mohammad Amin.
Editor: Redaktur TVRINews
