
Grafis: TVRINews.com
Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
Dampak eskalasi konflik Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mulai menekan mata uang Garuda.
Pasar valuta asing global memasuki periode konsolidasi dengan volume perdagangan yang cenderung terbatas pada Jumat 3 April 2026.
Libur Jumat Agung di berbagai pusat keuangan dunia menyebabkan likuiditas menipis, membuat mayoritas mata uang bergerak dalam rentang sempit di tengah bayang-bayang eskalasi ketegangan di Timur Tengah.
Terlepas dari ketenangan sesaat di pasar global, posisi Rupiah diprediksi akan menghadapi tekanan hebat pada pembukaan pekan mendatang.
Berdasarkan analisis fundamental terkini, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS diproyeksikan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah ke kisaran Rp17.000 hingga Rp17.040 per dolar AS pada perdagangan Senin 6 April 2026.
Dinamika Eksternal dan Ketegangan Minyak
Penguatan indeks Dolar AS dipicu oleh retorika terbaru dari Washington terkait stabilitas energi global, Ibrahim Assuaibi dari Traze Andalan Futures , menyoroti bahwa penguatan greenback mendapat momentum dari perubahan sikap militer Amerika Serikat terhadap infrastruktur energi di Iran.
"Pernyataan tersebut menandai perubahan arah kebijakan yang signifikan, di mana militer AS mengindikasikan tekanan berkelanjutan terhadap target strategis energi," ujar Ibrahim.
Langkah tersebut memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak mentah dunia, yang pada gilirannya memberikan sentimen positif bagi Dolar AS sebagai aset aman (safe haven).
Risiko Fiskal di Dalam Negeri
Dari aspek domestik, perhatian investor tertuju pada kesehatan fiskal Indonesia. Harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang berpotensi menetap di level US$100 per barel telah memaksa pemerintah merombak proyeksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Defisit diperkirakan melebar dari target awal 2,68% menjadi 2,9% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Ibrahim menjelaskan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel memberikan beban tambahan pada defisit hingga Rp6 triliun.
"Pemerintah bahkan memproyeksikan tambahan belanja subsidi energi hingga Rp100 triliun demi menjaga stabilitas harga BBM di tingkat domestik," tambahnya.
Sebagai langkah antisipatif, penghematan belanja kementerian serta optimalisasi Saldo Anggaran Lebih (SAL) menjadi strategi utama otoritas dalam menjaga kredibilitas fiskal.
Kinerja Mata Uang Regional
Kondisi bervariasi terlihat pada mata uang Asia lainnya. Yen Jepang terpantau stabil di kisaran 159,61, mendekati ambang psikologis 160 per dolar yang memicu kewaspadaan tinggi dari otoritas keuangan Tokyo terhadap pergerakan spekulatif.
Sementara itu, Rupee India mencatatkan penguatan signifikan setelah intervensi dari Reserve Bank of India (RBI).
Langkah tegas RBI dalam membatasi posisi valuta asing perbankan berhasil meredam spekulasi dan menstabilkan nilai tukar di level 92,71 per dolar.
Di Tiongkok, melambatnya sektor jasa yang tercermin dari penurunan PMI Jasa menjadi 52,1 turut menambah sentimen kehati-hatian di kawasan.
Fokus pasar kini beralih sepenuhnya pada data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payrolls) yang akan menjadi kompas bagi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve di masa depan.
Editor: Redaktur TVRINews
