
Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews, Jakarta
Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan realisasi investasi hilirisasi pada Triwulan I 2026 mencapai Rp147,5 triliun. Angka tersebut mengalami kenaikan 8,2 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 yang sebesar Rp136,3 triliun.
Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan bahwa sektor hilirisasi menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan investasi nasional pada awal tahun ini.
“Investasi di sektor hilirisasi menunjukkan tren yang positif dan kontribusinya semakin besar terhadap total investasi nasional,” ujar Rosan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 23 April 2026.
Dari total tersebut, sektor hilirisasi mineral masih menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp98,3 triliun. Komoditas nikel mendominasi dengan Rp41,5 triliun, diikuti tembaga Rp20,7 triliun, besi baja Rp17 triliun, bauksit Rp13,7 triliun, timah Rp2,5 triliun, serta komoditas lainnya Rp2,9 triliun.
Sementara itu, hilirisasi perkebunan dan kehutanan tercatat sebesar Rp29,8 triliun, yang berasal dari komoditas kelapa sawit, kayu log, karet, dan lainnya. Untuk sektor minyak dan gas bumi (migas) mencapai Rp17,7 triliun, sedangkan sektor perikanan dan kelautan sebesar Rp1,7 triliun.
Rosan menambahkan, pemerintah terus mendorong agar sektor perikanan dan kelautan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar pada periode berikutnya.
“Ke depan kita harapkan sektor perikanan dan kelautan bisa tumbuh lebih kuat dan menjadi motor baru hilirisasi,” katanya.
Dari sisi sebaran wilayah, investasi hilirisasi masih didominasi luar Pulau Jawa dengan porsi 75,5 persen atau setara Rp111,4 triliun. Adapun provinsi dengan realisasi terbesar meliputi Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Kepulauan Riau.
Pemerintah menegaskan akan terus memperkuat kebijakan hilirisasi sebagai strategi untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi dan memperluas pemerataan investasi di seluruh Indonesia.
Editor: Redaksi TVRINews
