
Foto: Kementan
Penulis: Alfin
TVRINews, Jakarta
Pernyataan akademisi Feri Amsari yang meragukan capaian swasembada pangan pada era Presiden RI Prabowo Subianto menuai bantahan luas. Kritik datang dari warganet hingga petani yang mengaku merasakan langsung dampak kebijakan di sektor pertanian.
Perbincangan di media sosial menunjukkan banyak pengguna menilai tudingan tersebut tidak berdasar. Mereka menyoroti perbedaan antara narasi yang disampaikan dengan data resmi serta kondisi nyata di lapangan.
Feri Amsari sebelumnya mempertanyakan klaim swasembada pangan dan menyebut penghentian impor beras sebagai informasi yang tidak masuk akal. Pernyataan ini langsung direspons akun TikTok @izin_berpendapat.
“Bukan 2026 kita swasembada pangan itu mulai tahun 2025, jadi tolonglah kalau mau cari data atau kalau mau bohong yang lebih rapih sedikit gitu ya,” ujar akun Tiktok @izin_berpendapat, dikutip Minggu, 12 April 2026.
Akun tersebut juga membantah klaim terkait penyusutan lahan sawah. Berdasarkan data yang disampaikan, luas panen padi nasional justru mengalami peningkatan.
“Luas panen padi kita pada tahun 2024 itu 10,05 juta hektar. Di 2025 ketika kita swasembada beras itu angkanya naik 12,69 persen jadi 11,32 juta hektar,” kata @izin_berpendapat.
Selain faktor luas lahan, kebijakan harga gabah dinilai berperan penting dalam mendorong produksi. Pemerintah menetapkan pembelian gabah petani sebesar Rp6.500 per kilogram.
“Program utama untuk swasembada beras itu membeli mahal gabah dari petani. Efeknya petani lebih termotivasi, produksinya naik, dan petani juga lebih sejahtera,” lanjut akun tersebut.
Keberhasilan menghentikan impor beras juga disebut berdampak pada pasar global dan mendapat pengakuan internasional.
“FAO mengakui swasembada beras Indonesia. Gara-gara Indonesia stop impor itu harga beras dunia turun sebesar 44 persen,” ujar @izin_berpendapat.
Sejumlah petani turut menyampaikan pengalaman mereka melalui kolom komentar. Mereka mengaku merasakan peningkatan hasil panen dan pendapatan.
“Aku petani muda ucapkan terima kasih BPK Presiden Prabowo, 3 bulan lagi panen,” ujar Rohman Abdi Minah, dikutip Minggu, 12 April 2026.
“Sebelum Presiden Prabowo, saya jual gabah kering 570 ribu–580 ribu per kuintal, sekarang tiap panen minimal 700 ribu per kuintal, harga pupuk juga makin murah,” ungkap akun salep888.
“Saya petani bro, sekarang petani lebih diperhatikan pemerintah bro, pupuk turun harga jual gabah naik,” komentar Rohman Ardianto.
“Saya percaya pemerintahan kita swasembada beras, karena di lapangan panen terus berhasil dan melimpah di kampung saya, harga gabah pun meningkat dari tahun sebelumnya, pupuk subsidi pun gampang didapat,” kata Made Darmawan.
Editor: Redaktur TVRINews
