
dok. Kementan
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Kementerian Pertanian terus mempercepat program hilirisasi subsektor perkebunan nasional guna meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus mendongkrak kesejahteraan pekebun.
Langkah tersebut dilakukan melalui penyiapan lahan, identifikasi Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL), serta koordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan.
Program hilirisasi difokuskan pada tujuh komoditas strategis, yakni tebu, kopi, kakao, kelapa, lada, pala, dan jambu mete. Komoditas tersebut dinilai memiliki potensi besar dalam meningkatkan nilai ekonomi sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat perkebunan.
Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp9,5 triliun untuk pengembangan komoditas tersebut dengan target mencapai 870.000 hektare kebun rakyat pada periode 2025–2027. Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah sentra perkebunan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa hilirisasi menjadi kunci agar komoditas perkebunan tidak lagi dijual dalam bentuk mentah.
“Kami ingin komoditas perkebunan memiliki nilai tambah lebih tinggi. Karena itu, hilirisasi terus didorong agar hasilnya bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih besar dan memberikan keuntungan bagi pekebun,” ujar Amran dalam keterangan tertulis, Selasa, 17 Maret 2026.
Ia menambahkan, pemerintah juga memastikan kesiapan berbagai aspek pendukung, mulai dari ketersediaan lahan, kesiapan kelompok tani, hingga penguatan ekosistem industri agar program berjalan berkelanjutan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat menjelaskan, penyiapan program dilakukan melalui pemetaan potensi lahan serta verifikasi langsung di lapangan.
“Kami turun langsung untuk memastikan kesiapan CPCL, memetakan potensi lahan, serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pekebun. Proses ini penting agar pelaksanaan hilirisasi berjalan optimal,”ungkap Roni.
Selain penguatan di sektor budidaya, Kementan juga mendorong pengembangan produk turunan dari komoditas perkebunan. Di antaranya gula dari tebu, produk olahan kelapa, cokelat dari kakao, hingga berbagai produk rempah dari pala dan lada.
Melalui strategi tersebut, subsektor perkebunan diharapkan tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi berkembang menjadi industri bernilai tambah tinggi yang mampu membuka peluang usaha baru serta meningkatkan kesejahteraan jutaan pekebun di Indonesia.
Editor: Redaktur TVRINews
