
dok. Samuel Sekuritas
Penulis: Alfin
TVRINews, Jakarta
Ekonomi Indonesia memasuki Februari 2026 dengan fondasi yang dinilai tetap kuat di tengah meningkatnya tekanan inflasi dan ketidakpastian global. Samuel Sekuritas menilai aktivitas domestik masih menunjukkan ketahanan struktural yang menopang stabilitas makroekonomi.
“Indonesia memasuki Februari 2026 dengan gambaran makro yang beragam, ditandai oleh aktivitas domestik yang tetap tangguh, tekanan inflasi yang meningkat, serta ketidakpastian geopolitik yang lebih tinggi,” tulis Samuel Sekuritas dalam laporannya, 3 Februari 2026.
Sektor manufaktur menjadi penopang utama ketahanan ekonomi. Indeks Pembelian Manajer (PMI) manufaktur Indonesia tercatat naik ke level 52,6 pada Januari 2026. Capaian ini mencerminkan ekspansi industri yang berlanjut tanpa disertai tekanan harga berlebihan.

“Profil PMI ini menunjukkan pemulihan industri yang masih bersifat non inflationary, sehingga memberi ruang kenyamanan bagi Bank Indonesia,” tulis laporan tersebut.
Dari sisi eksternal, kinerja neraca perdagangan tetap menjadi bantalan penting bagi perekonomian. Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar 41,05 miliar dolar Amerika Serikat sepanjang 2025. Surplus tersebut didorong pemulihan ekspor serta peningkatan impor yang mencerminkan penguatan investasi domestik.
“Ekspor bangkit tajam sementara impor juga meningkat, menandakan penguatan investasi domestik dan permintaan industri,” tulis Samuel Sekuritas.
Tekanan inflasi mulai meningkat pada awal tahun. Inflasi tahunan Januari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen, sedikit melampaui batas atas sasaran Bank Indonesia. Kenaikan ini dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor administrasi harga serta pergerakan nilai tukar, bukan lonjakan permintaan.
“Inflasi diperkirakan tetap tinggi pada 1Q26 sebelum mereda setelah Idul Fitri, mendukung sikap BI untuk menahan suku bunga,” tulis laporan itu.
Di sisi struktural, inklusi keuangan terus menunjukkan kemajuan. Jumlah investor pasar modal telah melampaui 21 juta, seiring berjalannya digitalisasi administrasi perpajakan yang memperluas basis kepatuhan fiskal.
“Pertumbuhan tersebut menegaskan pendalaman inklusi keuangan meskipun terjadi volatilitas pasar saham belakangan ini,” tulis Samuel Sekuritas.
Meski demikian, laporan tersebut mencatat risiko tata kelola masih menjadi perhatian, terutama terkait aktivitas ekonomi ilegal di sektor pertambangan. Kebocoran ekonomi dinilai tetap menjadi tantangan material bagi penguatan reformasi institusional.
Sebagai penutup, Samuel Sekuritas menilai 2026 akan menjadi fase penyeimbangan kebijakan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makro.
“Secara keseluruhan, 2026 diperkirakan menjadi tahun penyeimbangan kebijakan antara dukungan pertumbuhan, stabilitas, dan disiplin institusional,” tulisnya.
Editor: Redaksi TVRINews
