
Menteri Investasi/Kepala BKPM, Rosan P. Roeslani (Foto:Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden)
Penulis: Fityan
TVRINews- Jakarta
Kementerian Investasi mencatat pertumbuhan 43,3% sepanjang 2025 dengan sektor mineral sebagai motor utama penggerak ekonomi nasional.
Indonesia mencatatkan lonjakan signifikan dalam realisasi investasi sektor hilirisasi sepanjang tahun 2025.
Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan total penanaman modal di sektor ini mencapai Rp584,1 triliun, meningkat tajam sebesar 43,3% dibandingkan perolehan pada tahun sebelumnya.

Foto:Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden
Dominasi sektor mineral tetap menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi sebesar Rp373,1 triliun.
Dalam rinciannya, komoditas nikel memimpin dengan angka Rp185,2 triliun, disusul oleh tembaga sebesar Rp65,9 triliun, dan bauksit yang menyentuh Rp53,1 triliun. Selain itu, sektor besi baja dan timah turut memperkuat fondasi industri hulu-ke-hilir nasional dengan capaian masing-masing Rp39,2 triliun dan Rp11,3 triliun.
Menteri Investasi/Kepala BKPM, Rosan P. Roeslani, menegaskan bahwa strategi hilirisasi akan terus diperluas ke berbagai sektor di luar mineral untuk memperkuat ketahanan ekonomi.
"Kita berharap ini akan mendukung pertumbuhan perekonomian Indonesia untuk terus berkembang, maju, dan juga tidak hanya besaran nilai investasi, tentunya yang lebih penting adalah penciptaan lapangan pekerjaan," ujar Rosan dalam konferensi pers capaian kinerja di Jakarta, kamis 15 Januari 2026.
Diversifikasi Sektor dan Sebaran Regional
Selain mineral, pemerintah juga mencatat performa positif di sektor perkebunan dan kehutanan yang membukukan investasi sebesar Rp144,5 triliun.
Kelapa sawit dan pengolahan kayu log menjadi kontributor terbesar di kategori ini. Sementara itu, sektor minyak dan gas bumi menyumbang Rp60 triliun, diikuti oleh sektor perikanan yang mulai menunjukkan tren pertumbuhan dengan nilai Rp6,4 triliun.
Secara geografis, pusat pertumbuhan industri hilirisasi Indonesia masih terkonsentrasi di wilayah timur dan Jawa.
Sulawesi Tengah menempati posisi teratas dengan realisasi Rp110 triliun, mencerminkan masifnya pembangunan smelter di wilayah tersebut.
Maluku Utara mengekor di posisi kedua (Rp74,8 triliun), disusul oleh Jawa Barat (Rp71,4 triliun), Banten (Rp41,3 triliun), dan Jawa Timur (Rp36,7 triliun).
Langkah pemerintah dalam menggenjot hilirisasi dipandang sebagai upaya transformasi ekonomi untuk beralih dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi produsen barang bernilai tambah tinggi di pasar global.
Editor: Redaktur TVRINews
