
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa Pada konferensi pers APBNKITA kamis 8/1/2026 (Foto: Tan Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa Pada konferensi pers APBNKITA kamis 8/1/2026
Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
Menteri Keuangan Sebut Kebijakan Ekspansif Demi Menjaga Stabilitas Ekonomi Nasional
Pemerintah Indonesia resmi mencatatkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp695,1 triliun pada penutupan tahun anggaran 2025.
Angka ini setara dengan 2,92% dari Produk Domestik Bruto (PDB), menunjukkan tren kenaikan dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menjelaskan bahwa pelebaran defisit dari target awal sebesar 2,53% merupakan langkah strategis atau kebijakan countercyclical.
Langkah ini diambil guna memastikan roda ekonomi tetap bergerak ekspansif di tengah dinamika global.
"Defisit ini adalah misi untuk menjaga agar ekonomi tetap ekspansi. Saya bisa saja membuat defisit menjadi nol, namun risikonya ekonomi akan menjadi kacau," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KITA di Jakarta, Kamis 8 Januari 2026.
Struktur Pendapatan dan Belanja
Berdasarkan laporan Kementerian Keuangan, realisasi pendapatan negara hingga Desember 2025 terkumpul sebesar Rp2.756,3 triliun, atau mencapai 91,7% dari target.
Kontributor utama berasal dari:
• Penerimaan Pajak: Rp1.917,6 triliun.
• Kepabeanan dan Cukai: Rp300,3 triliun.
• Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP): Rp534,1 triliun.
Di sisi lain, penyerapan belanja negara tercatat cukup efektif dengan realisasi Rp2.602,3 triliun, atau sekitar 96,3% dari total pagu yang direncanakan. Meski demikian, keseimbangan primer masih mencatatkan gap negatif sebesar Rp180,7 triliun.
Proyeksi Optimis 2026
Kenaikan defisit dari angka 2,3% pada 2024 menjadi 2,92% pada 2025 dipandang pemerintah sebagai investasi untuk memperkuat fondasi ekonomi tahun depan.
Purbaya menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkecil celah fiskal tersebut seiring dengan membaiknya momentum pertumbuhan.
"Kami optimis pada 2026 defisit dapat ditekan kembali, sembari memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,4%, kami berupaya mendorong capaian tersebut ke level yang lebih tinggi," pungkasnya.
Langkah fiskal ini mencerminkan upaya pemerintah dalam menyeimbangkan antara disiplin anggaran dan kebutuhan untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi domestik yang berkelanjutan.
Editor: Redaktur TVRINews
