
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah ke level Rp16.776 pada perdagangan Rabu, 4 Februari 2026. Pelemahan rupiah terjadi seiring pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga cenderung melemah.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terkoreksi 0,08% terhadap dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS justru melemah 0,08% ke level 97,36.
Sejumlah mata uang Asia bergerak bervariasi. Yen Jepang turun 0,42%, won Korea Selatan melemah 0,30%, baht Thailand terkoreksi 0,22%, peso Filipina melemah 0,10%, dolar Taiwan turun 0,12%, dan dolar Singapura melemah 0,05%.
Sementara itu, dolar Hong Kong menguat 0,01%, yuan China naik 0,02%, dan ringgit Malaysia menguat 0,08%.
Pelemahan rupiah terjadi meskipun dolar AS sedang berada dalam tekanan di pasar global. Namun, sentimen domestik masih membebani pergerakan rupiah, terutama akibat belum pulihnya kondisi pasar keuangan dalam negeri dari tekanan arus keluar dana asing (outflow) di pasar saham Indonesia.
Di pasar global, dolar AS melemah seiring sikap hati-hati investor yang menantikan rilis data ekonomi terbaru Amerika Serikat. Data tersebut dinilai krusial karena dapat memberikan gambaran arah kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed), khususnya terkait potensi dan waktu pemangkasan suku bunga.
Saat ini, perhatian pelaku pasar tertuju pada laporan penggajian swasta ADP yang dijadwalkan rilis malam ini, disusul oleh survei sektor jasa Institute for Supply Management (ISM).
Dari dalam negeri, pemerintah tetap menyampaikan optimisme terhadap pergerakan rupiah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai nilai tukar rupiah saat ini belum sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia dan masih berada pada level undervalued.
Editor: Redaktur TVRINews
