
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto saat menyampaikan keynote speech di acara 20th Anniversary Celebration of the China Chamber of Commerce in Indonesia(Foto: Biro Pers Kemenko Perekonomian RI.)
Penulis: Fityan
TVRINews-Jakarta
Pemerintah dorong kolaborasi investasi senilai Rp36,7 triliun melalui inisiatif lintas negara.
Pemerintah Indonesia terus memperluas cakrawala hubungan bilateral dengan mitra strategis global guna memastikan stabilitas pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Dalam langkah terbaru, Jakarta memperkokoh kemitraan komprehensif dengan Beijing, mencakup penguatan sektor perdagangan, investasi, hingga integrasi rantai pasok industri.
Berdasarkan data Kemeterian Perekonomian RI tahun 2024, China mengukuhkan posisinya sebagai mitra dagang utama Indonesia dengan nilai transaksi mencapai US$135,2 miliar. Hubungan ini dinilai krusial mengingat posisi strategis kedua negara sebagai kekuatan ekonomi di G20.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa sinergi ini didukung penuh oleh peran aktif pemangku kepentingan, termasuk China Chamber of Commerce in Indonesia (CCCI).
Selama dua dekade, organisasi tersebut telah berfungsi sebagai jembatan komunikasi yang efektif antara pemerintah dan sektor privat.
"Ini benar-benar merupakan tonggak penting bahwa kolaborasi dan kerja sama antara kedua negara terbuka. Ini adalah pasar besar yang menawarkan peluang bagi kedua perusahaan dan kedua negara," ujar Airlangga dalam keterangan resminya yang dikutip Biro Pers Kemenko Perekonomian RI.
Sinergi Ekonomi Dua Raksasa
Secara makroekonomi, kolaborasi ini mempertemukan dua kekuatan besar. China saat ini merupakan ekonomi terbesar kedua di dunia dengan PDB senilai US$17,8 triliun, sementara Indonesia memiliki PDB sebesar US$1,4 triliun.
Dengan total populasi gabungan mencapai hampir 1,7 miliar jiwa, kemitraan ini memiliki potensi pasar yang sangat masif.
Salah satu pilar utama dalam kerja sama ini adalah inisiatif Two Parks Twin Countries (TPTC). Kerangka kerja ini bertujuan untuk mengintegrasikan kawasan industri kedua negara guna memfasilitasi arus investasi yang lebih lancar.
Komitmen politik terhadap inisiatif ini semakin kuat setelah Nota Kesepahaman TPTC diperbarui pada Mei 2025.
Penandatanganan tersebut dilakukan oleh Menko Airlangga dan Menteri Perdagangan China Wang Wentao, dengan disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Li Qiang.
Realisasi Investasi Strategis
Sebagai bentuk nyata dari penguatan TPTC, sejumlah perusahaan dari Fujian dan mitra di Indonesia telah menandatangani 16 proposal proyek. Total nilai investasi yang disepakati mencapai US$2,19 miliar atau setara dengan Rp36,7 triliun.
Proyek-proyek tersebut menyasar sektor-sektor strategis yang meliputi:
• Industri logam dasar dan manufaktur.
• Pengolahan pangan (daging dan makanan laut).
• Teknologi masa depan: Drone, baterai, dan Kecerdasan Buatan (AI).
• Sektor komoditas: Tekstil, teh, dan furnitur.
Menatap masa depan, Indonesia menyatakan keterbukan untuk pendalaman kerja sama di bidang energi terbarukan, ekonomi digital, hingga komputasi kuantum.
Langkah ini diharapkan tidak hanya mendorong pertumbuhan angka, tetapi juga mempercepat pengembangan sumber daya manusia dan ketahanan pangan nasional.
Editor: Redaktur TVRINews
