
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Kembali ke bawah Rp17.200 per dolar AS meski dolar global masih menguat.
Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir pekan, Jumat, 24 April 2026, di tengah tekanan eksternal yang masih cukup tinggi.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di zona hijau dengan apresiasi 0,52% ke level Rp17.190 per dolar AS. Penguatan ini sekaligus membawa rupiah kembali berada di bawah level psikologis Rp17.200 per dolar AS.
Sebelumnya, pada perdagangan Kamis, 23 April 2025, mata uang Garuda ditutup melemah 0,64% di posisi Rp17.280 per dolar AS, yang menjadi level penutupan terlemah sepanjang masa.
Di sisi lain, indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau masih menguat 0,07% ke posisi 98,833. Hal ini menandakan pelaku pasar global masih memburu greenback sebagai aset aman atau safe haven.
Sentimen global masih dibayangi mandeknya negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang membuat harapan meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali menipis.
Iran sebelumnya menunjukkan kontrolnya atas jalur strategis pelayaran dunia, sehingga waktu pembukaan kembali koridor penting tersebut masih belum jelas. Kondisi ini menjaga harga energi tetap tinggi dan terus membebani sentimen pasar global.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas rupiah melalui operasi pasar yang terukur dan berkesinambungan.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan intervensi akan terus dilakukan secara konsisten melalui berbagai instrumen.
“Intervensi yang berkesinambungan akan terus kami lakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder,” ujar Destry, dikutip Jumat, 24 April 2026.
Selain intervensi valas dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN), BI juga terus mengoptimalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik.
Dalam rilis Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026, BI menyebut strategi ini diarahkan untuk tetap menarik aliran masuk investasi portofolio asing ke pasar domestik.
Hingga 21 April 2026, posisi outstanding SRBI tercatat sebesar Rp885,41 triliun, dengan kepemilikan nonresiden mencapai Rp165,98 triliun atau sekitar 18,75% dari total outstanding.
Penguatan rupiah pada akhir pekan ini menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan domestik. Namun, volatilitas nilai tukar diperkirakan masih akan berlanjut seiring perkembangan isu geopolitik global dan arah kebijakan moneter AS.
Editor: Redaksi TVRINews
