
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp16.965 per Dolar AS
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Selasa, 20 Januari 2026. Rupiah terdepresiasi 0,18 persen ke level Rp16.965 per dolar AS, melanjutkan tekanan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya.
Berdasarkan data Refinitiv, pada Senin, 19 Januari 2026, rupiah ditutup melemah 0,33 persen dan menyentuh level terendah sepanjang masa di Rp16.935 per dolar AS.
Tekanan dari Mata Uang Asia
Pelemahan rupiah terjadi seiring tekanan pada mayoritas mata uang Asia. Hingga pagi hari, pelemahan dipimpin oleh won Korea Selatan yang turun 0,32 persen.
Rupiah menyusul melemah 0,24 persen, diikuti dolar Taiwan yang terkoreksi 0,13 persen, dolar Singapura 0,05 persen, yen Jepang 0,04 persen, serta peso Filipina dan baht Thailand masing-masing 0,01 persen.
Indeks Dolar AS Melemah
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB justru tercatat melemah 0,31 persen ke level 99,080, menunjukkan tekanan rupiah tidak sepenuhnya berasal dari penguatan dolar AS.
Proyeksi Rupiah Hari Ini
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Pada perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.950 hingga Rp16.980 per dolar AS.
Kekhawatiran Fiskal Jadi Sentimen Negatif
Menurut Ibrahim, tekanan utama terhadap rupiah berasal dari kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia. Defisit anggaran pemerintah tahun lalu tercatat mendekati batas maksimal 3 persen dari produk domestik bruto (PDB), sementara penerimaan pajak belum menunjukkan pemulihan signifikan.
“Kondisi ini menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah,” ujarnya.
Sentimen Global Masih Membayangi
Dari sisi global, pasar masih diliputi ketidakpastian akibat rencana kebijakan tarif impor Presiden AS Donald Trump sebesar 10 hingga 25 persen terhadap negara-negara Eropa. Ancaman tarif tersebut mendorong investor bersikap lebih hati-hati terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang tercatat 5,0 persen memberikan sentimen campuran. Meski sesuai target pemerintah Beijing, lemahnya konsumsi domestik Tiongkok dinilai berpotensi menekan prospek ekspor negara-negara mitra dagang di Asia, termasuk Indonesia.
Editor: Redaksi TVRINews
