
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Turunnya indeks dolar ke 98,07 memberi ruang bagi penguatan rupiah pada perdagangan Selasa pagi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tampil perkasa pada pembukaan perdagangan Selasa, 21 April 2026. Mata uang Garuda berhasil memimpin penguatan di kawasan Asia seiring dengan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data pasar spot, rupiah dibuka menguat 0,23 persen ke posisi Rp17.130/US$. Keperkasaan rupiah pagi ini didorong oleh sentimen positif dari terjandanya konflik di Timur Tengah, setelah Iran sepakat untuk bergabung kembali dalam negosiasi baru dengan Amerika Serikat.
Sentimen perdamaian tersebut juga membuat indeks dolar AS (DXY) terhadap enam mata uang utama tergelincir tipis 0,02 persen ke level 98,07. Hal ini terjadi menyusul penurunan harga komoditas energi global.
Harga Minyak Melandai, Namun Masih di Atas Asumsi APBN
Melemahnya dolar AS berbanding lurus dengan koreksi pada harga minyak mentah dunia. Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun 1,92 persen menjadi US 87,89 per barel. Senada, minyak jenis Brent juga terkoreksi 1,05 persen ke posisi US 94,48 per barel.
Meski mengalami penurunan, harga minyak Brent terpantau masih bertahan jauh di atas nilai asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dipatok sebesar US$70 per barel. Kondisi ini tetap menjadi perhatian pemerintah terkait dampaknya terhadap subsidi energi.
Pergerakan Mata Uang Regional
Rupiah tidak sendirian berada di zona hijau. Mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau bergerak beragam dengan kecenderungan menguat:
* Dolar Taiwan: Menguat 0,16%
* Ringgit Malaysia: Menguat 0,1%
* Baht Thailand: Menguat 0,07%
* Won Korea Selatan: Menguat 0,05%
* Yuan China: Menguat 0,02%
* Peso Filipina & Yuan Offshore: Menguat tipis 0,01%
IHSG Tertekan Sentimen MSCI
Berbeda nasib dengan pasar valas, pasar saham domestik justru mengawali hari di zona merah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka terkoreksi 0,45 persen ke level 7.560. Tak berselang lama, pelemahan semakin tajam mencapai 0,66 persen ke posisi 7.544.
Tekanan pada IHSG dipicu oleh keputusan MSCI yang melanjutkan pembekuan rebalancing indeks untuk konstituen dari Bursa Efek Indonesia (BEI).
Kebijakan ini menjadi sentimen negatif bagi para investor karena berisiko menghambat aliran modal asing (capital inflow) ke pasar modal dalam negeri.
Hingga berita ini diturunkan, pelaku pasar masih mencermati perkembangan negosiasi Iran-AS serta dampaknya terhadap volatilitas harga komoditas dan arus modal di pasar keuangan domestik.
Editor: Redaktur TVRINews
